HALAQAH 12 :
بسم اللّه الرحمن الرحيم
ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA TURUN KE LANGIT DUNIA DAN ALLAH DATANG PADA HARI KIAMAT
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وَصحبِهِ ومن وَالَاه،
Para Santri HSI Akademi dimanapun antum berada waffaqakumullah jami’an,
Kita lanjutkan pembahasan Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ditulis oleh fadhilatul Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ta'ala.
Masih kita pada pasal beriman kepada Allah.
Beliau rahimahullah mengatakan:
00:15
ونؤمن بما أخبر به عنه رسو له ﷺ أنه ينزل كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الأخير
"Dan kami (Ahlus Sunnah wal Jama'ah) beriman (percaya, meyakini, tidak ragu-ragu) dengan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ"
Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam sebagai seorang Rasul datang dan di antara yang Beliau bawa adalah kabar-kabar (berita-berita) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kita sebagai seorang Ahlus Sunnah yang mengaku bersyahadah (bersaksi) bahwasanya Beliau adalah seorang Rasulullah harus meyakini dan percaya dengan setiap apa yang Beliau kabarkan.
Terkadang Beliau mengabarkan tentang berita-berita yang sudah berlalu, kisah-kisah yang telah berlalu, yang sudah ratusan tahun atau ribuan tahun yang lalu, maka kita membenarkan Beliau نؤمن به kita beriman dengan apa yang Beliau sampaikan.
Terkadang Beliau mengabarkan tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, manusia pada asalnya tidak mengetahui yang demikian. Ini adalah kekhususan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Tapi Allah Subhanahu wa Ta'ala terkadang memberi tahu sebagian dari perkara yang akan terjadi di masa yang akan datang ini kepada para nabi. Termasuk di antaranya yang Beliau kabarkan adalah tentang sifat-sifat Allah.
Maka apabila Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam mengabarkan tentang sebagian sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala maka kita harus membenarkan dan wajib bagi kita untuk membenarkan.
Karena Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam adalah:
02:09
أعلم الناس بالله ﷻ
⑴ Beliau adalah manusia yang paling mengenal Allah Azza wa Jalla, tidak ada diantara manusia yang lebih mengenal Allah daripada Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam.
02:24
اصدق الناس
⑵ Beliau adalah manusia yang paling jujur, tidak pernah Beliau berdusta meskipun hanya sekali.
Oleh karena itu orang-orang Quraisy ketika Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam di awal dakwahnya mengatakan kepada mereka, "Bagaimana pendapat kalian seandainya aku mengabarkan kepada kalian bahwasanya ada pasukan yang akan menyerang kalian?". Dan Beliau berada di atas bukit Shafa saat itu.
Seandainya di balik bukit ini ada pasukan yang akan menyerang kalian,
02:57
أكنتم مصدقي “Apakah kalian akan membenarkan diriku?”
Maka orang-orang Quraisy yang mereka sangat mengenal sekali Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam, mengenal sekali Muhammad Ibnu Abdillah Ibnu Abdil Muthalib. Mereka mengatakan dan tidak ada di antara mereka menyelisihi.
03:17
مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَم كذباً
"Kami tidak pernah melihat engkau berdusta.”
Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam dikenal sebagai seorang yang al-amin (orang yang shadiq) اصدق الناس adalah Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam.
⑶ Beliau adalah orang yang paling fasih, orang yang bisa mengungkapkan sesuatu sesuai dengan hakikatnya adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam.
⑷ Beliau adalah orang yang paling anshah, orang yang paling menginginkan kebaikan bagi manusia. Hatinya lembut (bersih) tidak menginginkan kejelekan bagi manusia.
Orang yang sangat menginginkan kebaikan bagi manusia, bagi orang yang melihat sirah Beliau, membaca perjalanan hidup Beliau maka akan mengetahui yang demikian.
Sehingga terkumpul di dalam ucapan Beliau tiga sifat ini atau di dalam diri Beliau tiga sifat ini.
1. Beliau adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah dan
2. Beliau adalah orang yang paling jujur, tidak dusta di dalam ucapannya dan ucapan Beliau adalah ucapan yang paling jelas yang paling mengungkapkan kenyataan dan
3. Beliau adalah orang yang paling anshah orang yang paling menasehati manusia, orang yang paling bersih hatinya.
Maka tidak ada حيلة (alasan) bagi seseorang untuk menolak kabar dari Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam. Kalau kabar tersebut datang dari orang yang bodoh meskipun dia jujur, tidak kita terima. Kita tidak meragukan kejujurannya tetapi karena dia adalah orang yang jahil dikhawatirkan dia salah berbicara. Maka tidak bisa kita terima kabarnya begitu saja.
Seandainya dia mengetahui tetapi dia tidak jujur, juga demikian. Pintar tetapi dia bohong. Dikenal kebohongannya maka tidak bisa kita membenarkan ucapannya.
Dia pintar dan dia adalah orang yang jujur tetapi ternyata dia tidak bisa berbicara, tidak bisa fasih di dalam mengungkapkan sebuah perkara, sehingga terkadang salah-salah dalam mengungkapkan. Dia ingin mengungkapkan A (misalnya) tetapi bicaranya B, ini juga kita tidak bisa membenarkan ucapannya meskipun dia adalah orang yang pandai, meskipun dia adalah orang yang jujur tetapi yang kita khawatirkan dia salah dalam berbicara.
Ini semua di dalam diri Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam sempurna.
Makanya seorang muslim membenarkan apa yang Beliau kabarkan. Termasuk di antaranya adalah tentang sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di antara yang Beliau kabarkan kepada kita:
06:02
أنه ينزل كل ليلة إلى السماء الدنيا
"Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala turun setiap malam ke langit dunia.”
06:12
حين يبقى ثلث الليل الأخير
"Ketika sudah tersisa sepertiga malam yang terakhir.”
Ini di antara sifat yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam di dalam hadits yang shahih. Turun sesuai dengan keagungan-Nya.
• Pertama kita harus tetapkan sebagaimana sifat ini datang dari Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, maka harus kita tetapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala turun.
• Kedua harus kita yakini bahwasanya turunnya Allah Subhanahu wa Ta'ala ini sesuai dengan keagungan-Nya. Tidak sama dengan turunnya makhluk يليق بالله عز وجل .
Turunnya di sini sesuai dengan keagungan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak sama dengan turunnya makhluk.
Kita kembali ke kaidah:
07:00
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ
"Tidak ada yang serupa dengan Allah.”
Ini adalah kaidah umum.
Makanya yang terpatri dalam diri seorang yang beriman, datang kabar dari Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam tentang sifat Allah dia paham bahwasanya sesuai dengan keagungan Allah. Tidak sama dengan turunnya makhluk sehingga jangan dibayangkan turunnya Allah sama dengan turunnya makhluk.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌۖ "Tidak ada yang serupa dengan Allāh.”
Tidak bisa kita bayangkan, tidak boleh kita takyif, kita bagaimanakan. Oleh karena itu kalau kita sudah tahu bahwasanya ini sesuai dengan keagungan Allāh, tidak perlu di sana ada pertanyaan.
Misalnya: "Apakah ketika Allah turun Arsy ini menjadi kosong atau tidak kosong?"
Atau seperti yang diucapkan oleh sebagian. "Kalau Allah turun pada sepertiga malam yang terakhir berarti Allah turun terus.”
Karena kalau di sini sudah berlalu sepertiga malam yang terakhir nanti daerah yang lain sepertiga malam juga, daerah yang selanjutnya juga demikian.
Sehingga sebagian ada yang menolak turunnya Allah dengan argumen-argumen aqliyyah seperti ini. Ini dibangun karena sebelumnya sudah ada tasybih, membayangkan bahwasanya turunnya Allah sama dengan turunnya makhluk. Kita katakan, "Tidak!"
Allah Subhanahu wa Ta'ala turun sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, tapi turunnya Allah sesuai dengan keagungan-Nya.
Apa yang tadi dipertanyakan. "Apakah Arsy kosong atau tidak kosong" berarti nanti Allah Subhanahu wa Ta'ala terus turun karena sepertiga malam yang terakhir ini berpindah-pindah.
Ini tidak perlu lagi dipertanyakan karena itu adalah turunnya makhluk. Yang ada di dalam hadits ini adalah turunnya Allah Subhanahu wa Ta'ala yaitu sesuai dengan keagungannya sehingga tidak masalah bagi Ahlus Sunnah.
Mereka menerima kabar dari Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam dan mengatakan "Sami'na Wa Atho'na" (kami mendengar dan kami taat).
Selama hadits ini adalah shahih dan hadits ini adalah shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Tidak ada keraguan di dalam diri seorang muslim bahwasanya ini adalah benar dan Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam,
09:20
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ۞ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ
"Tidak berbicara dari hawa nafsunya, tidaklah apa yang Beliau ucapkan kecuali wahyu yang diwahyukan kepada Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam.” [QS An-Najm: 3-4]
Beliau rahimahullah mengatakan,
09:38
كل ليلة إلى السماء الدنيا "Setiap malam ke langit dunia ini.”
Yang dimaksud dengan langit dunia adalah langit yang paling dekat, karena langit ada tujuh dan langit yang paling dekat dengan kita dinamakan dengan السماء الدنيا, ”langit yang paling dekat”.
Kemudian ucapan Beliau, كل ليلة, ”setiap malam”.
Yang dimaksud malam, ini pendapat yang kuat atau yang lebih kuat yang namanya malam ini dimulai dari waktu maghrib, diakhiri dengan terbitnya fajar, inilah yang dimaksud dengan malam.
10:12
حين يبقى ثلث الليل الأ خير "Ketika masih tersisa sepertiga malam yang terakhir.”
Kalau kita ingin mengetahui sepertiga malam yang terakhir, berarti dihitung dulu dari maghrib sampai subuh. Maghribnya jam berapa, subuhnya jam berapa. Kemudian kita hitung berapa jam.
Kalau totalnya adalah misalnya sembilan jam berarti dibagi tiga, tiga jam, tiga jam, tiga jam. Tiga jam yang terakhir sampai subuh itulah sepertiga malam yang terakhir. Di situlah Allah Subhanahu wa Ta'ala turun ke langit dunia sesuai dengan keagungan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kemudian,
10:52
فيقول :
Allah mengatakan,
10:54
مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
"Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, siapa yang memohon ampun kepada-Ku sehingga Aku akan mengampuni dosanya.”
Allah akan mengucapkan ucapan ini ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala turun di sepertiga malam yang terakhir dan ini menunjukkan tentang bahwasanya sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang mustajab.
Sehingga disunnahkan dan dianjurkan sekali kita bangun di waktu tersebut, ketika manusia dalam keadaan lelap dengan tidurnya, seseorang berwudhu meninggalkan kenikmatan sesaatnya, berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bermunajat, berdo'a, mengadukan seluruh permasalahannya kepada Allah, permasalahan yang berkaitan dengan dunia dan juga meminta kepada Allah kebaikan akhirat, menangis di hadapan Allah, memohon ampun, maka ini adalah sebuah keutamaan. Di saat itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala turun dan Allah akan mengucapkan ucapan-Nya.
"Siapa yang meminta kepada-Ku atau berdo'a kepada-Ku kemudian Aku akan mengabulkan do'anya"
Karena itu saudara dan juga saudari sekalian, siapa di antara kita yang tidak memiliki hajat, masing-masing kita punya keinginan, bahkan seandainya seorang di antara kita disuruh menulis keinginannya di sebuah buku tulis misalnya, niscaya di sana akan ada berlembar-lembar halaman yang isinya adalah keinginan kita, angan-angan kita.
Maka ini kesempatan bagi kita untuk mendapatkan doa yang mustajab. Allah yang menjanjikan. Tinggal kita mau bangun, mengangkat kedua tangan kita meminta kepada Allah. Bagi orang yang kesulitan masalah rezeki, bagi orang yang masih belum mendapatkan jodoh, bagi orang yang sakit, bagi orang yang kesulitan dalam mendidik anak-anaknya, dan seluruh permasalahan yang dia miliki, bangun di sepertiga malam yang terakhir, shalat untuk Allah Subhanahu wa Taala, berdoa kepada Allah, janji dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
13:26
مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ
"Siapa yang meminta kepada-Ku kemudian Aku akan memberikan kepadanya.”
Ada yang mengatakan perbedaan antara berdoa dengan meminta, kalau berdoa itu mengatakan misalnya,
13:40
اللهم ارزقني
"Ya Allah, berikanlah aku rezeki.”
Tapi kalau meminta mengatakan,
13:48
اَللّٰهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ
"Ya Allah aku meminta kepada-Mu.”
Ada yang mengatakan demikian,
13:55
مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ
"Siapa yang meminta kepada-Ku kemudian Aku akan memberikan kepadanya.”
Maka bangun, mintalah kepada Allah kebaikan dunia dan juga kebaikan akhirat. Meminta kepada Allah surga,
14:10
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
"Ya Allah aku meminta kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka.”
Meminta kebaikan dunia dan juga akhirat.
Kemudian Allah mengatakan,
14:23
مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
"Siapa yang memohon ampun kepada-Ku kemudian Aku pun akan mengampuni dosanya.”
Dan siapa di antara kita yang tidak memiliki dosa. Dosa-dosa kita terlalu banyak. Dosa yang berkaitan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam melaksanakan kewajiban, di sana ada banyak larangan yang kita langgar ataupun dosa yang berkaitan dengan orang lain, kepada orang tua, kepada keluarga, kepada istri, kepada anak.
Maka ini saatnya waktu yang tepat untuk memohon ampun kepada Allah. Tentunya kalau dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain, sebagaimana yang kita ketahui harus kita mengembalikan hak tersebut. Kalau kita memang pernah menyakiti kehormatannya maka kita harus meminta maaf, minta untuk dihalalkan. Kalau itu berupa harta benda maka kita harus kembalikan dan seterusnya.
15:17
مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
"Siapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku pun akan mengampuni dosanya.”
Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ta'ala anhu.
Ada sebagian saudara kita هَدَاهُم الله semoga Allah subhanahu wa Ta'ala memberikan petunjuk kepada mereka dan kita semuanya tentunya, yang mereka menolak sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala ‘nuzul’ (turun), mereka mengatakan, "Kalau Allah turun berarti Allah Subhanahu wa Ta'ala di bawah"
Kemudian akhirnya mereka mentakwil, dan mengatakan, “Yang turun disini adalah malaikat, atau yang turun di sini adalah perintah Allah”.
Kita katakan bahwasanya hadits yang ada ini atau yang datang kepada kita ini disebutkan di situ yang turun adalah Allah,
16:12
يَنْزِلُ رَبُّنَا "Rabb kita turun.”
Jelas bahwasanya yang turun di sini adalah Allah, yang disifati di sini adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bagaimana seseorang mengatakan yang turun adalah malaikat-Nya atau perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kemudian yang kedua, di sini disebutkan ucapan
16:33
مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ
"Siapa yang berdoa kepada-Ku"
16:38
مَنْ يَسْأَلُنِي
"Siapa yang meminta kepada-Ku.”
16:41
مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي
"Siapa yang memohon ampun kepada-Ku.”
Yang mengucapkan ucapan ini yang berhak hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Apakah malaikat berhak untuk mengucapkan ucapan ini?
16:51
مَنْ يَدْعُونِي
Tidak boleh. Doa adalah ibadah, istighfar juga demikian. Apakah perintah Allah mengucapkan ucapan ini ? Tidak. Menunjukkan bahwasanya yang mengucapkan ucapan ini, yang turun adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena ucapan ini tidak mungkin mengucapkan ucapan ini kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sehingga yang mentakwil nuzul di sini sebagai turunnya malaikat atau perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala maka ini tidak benar dan bertentangan dengan dalil dan juga kaidah dan tidak perlu seseorang untuk lari dari tasybih kemudian dia mentakwil. Sebagaimana yang sering kita ulang-ulang cukup kita meyakini Allah Subhanahu wa Ta'ala turun sesuai dengan keagungan-Nya tidak sama dengan turunnya makhluk.
Dengan demikian kita,
• Pertama kita menetapkan sifat tersebut. Ini adalah bagian dari keimanan kita kepada Allah, kemudian yang,
• Kedua adalah kita mengatakan sesuai dengan keagungan Allah, berarti kita sudah tidak mentasybih Allah, kita tidak menyerupakan Allah dengan makhluk.
Beliau rahimahullah mengatakan:
18:05
ونؤمن بأنه سبحانه و تعالى يأتي يوم المعاد للفصل بين العباد لقوله تعالى:
كَلَّآۖ إِذَا دُكَّتِ ٱلۡأَرۡضُ دَكّٗا دَكّٗا ۞ وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلۡمَلَكُ صَفّٗا صَفّٗا ۞ وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِ بِجَهَنَّمَۚ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَى ۞ [QS Al-Fajr: 21-23]ٰ
Dan kami (Ahlus Sunnah) beriman (percaya, meyakini) bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala datang pada hari ketika manusia dikembalikan yaitu yaumul qiyamah.
Ketika manusia dikumpulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di padang Mahsyar seluruhnya dari yang awal sampai yang akhir (dari Nabi Adam alayhissalam sampai manusia yang terakhir).
Jin juga demikian dikumpulkan oleh Allah. Tidak ada di antara mereka yang ketinggalan seorangpun, bahkan hewan-hewan (binatang-binatang) juga dikumpulkan oleh Allah. Demikian pula para malaikat dikumpulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala semuanya.
Oleh karena itu, ini adalah perkumpulan yang akbar (perkumpulan yang paling besar), semuanya kumpul jadi satu (manusia, jin, malaikat, hewan-hewan) semuanya yang kita tidak mengetahui jumlahnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kumpul semuanya.
Kemudian datang Allah Subhanahu wa Ta'ala مالك المك - Dialah yang merajai seluruhnya, yang telah menciptakan mereka semuanya, yang telah memberikan mereka kehidupan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala akan datang di hari tersebut untuk memberikan keputusan di antara manusia yaitu untuk menghisab mereka. Ini keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Jadi dunia bukan terakhir, kehidupan di alam kubur bukan peristirahatan yang terakhir, di sana ada yaumul ma'ad, di sana ada hari dimana manusia akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ini keyakinan kita dan in syaa Allah nanti akan datang pembahasan tentang masalah beriman dengan hari akhir secara terperinci. In syaa Allah akan kita bahas ketika syaikh menyebutkan tentang beriman dengan hari akhir yang merupakan rukun iman yang ke-6.
Di sini yang akan kita bahas tentang masalah sifat datang bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah akan datang pada hari tersebut. Ini berdasarkan ayat dan juga berdasarkan hadits di antaranya adalah yang disebutkan oleh pengarang di sini.
20:48
لقوله تعالى: كَلَّآۖ إِذَا دُكَّتِ ٱلۡأَرۡضُ دَكّٗا دَكّٗا
"Sekali-kali tidak (kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla), apabila bumi digoncangkan dengan segoncang-goncangnya.” [QS Al-Fajr: 21]
Bumi yang kita tempati ini akan digoncangkan (digetarkan) gempa dengan getar yang segetar-getarnya (segoncang-goncangnya), sehingga tidak ada di sana gunung, tidak ada di sana lembah, tidak ada di sana batu, menjadi rata dan ini adalah pendapat sebagian ulama.
Mengatakan bahwasanya, "Tempat dikumpulkannya manusia di hari tersebut adalah bumi ini hanya saja berbeda sifatnya".
Para ulama berselisih pendapat tentang firman Allah:
21:31
يَوْمَ تُبَدَّلُ ٱلْأَرْضُ غَيْرَ ٱلْأَرْضِ وَٱلسَّمَـٰوَٰتُ
"Pada hari dimana akan diganti bumi selain bumi ini.” [QS Ibrahim: 48]
Ada yang mengatakan akan didatangkan bumi yang lain dan ada yang mengatakan buminya sama akan tetapi berbeda sifatnya. Sebelumnya (mungkin) ada pohon, ada gunung, ada lembah, ada berbagai makhluk, bangunan, benda dan seterusnya maka di hari tersebut akan hilang. Yang ada adalah tempat yang rata tidak ada gunung, tidak ada lembah, tidak ada tanda bagi manusia.
Kemudian Allah mengatakan:
22:10
وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلۡمَلَكُ صَفّٗا صَفّٗا
"Dan akan datang Rabb-Mu”,
Di sini syahidnya وَجَآءَ رَبُّكَ “Akan datang Rabb-Mu.”
Maka harus kita yakini, kita beriman bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan datang pada hari tersebut. Sesuai dengan keagungan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tidak sama dengan datangnya kita sebagai seorang makhluk.
Kembali kita kepada kaidah yang disebutkan di dalam ayat
22:42
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْء
"Tidak ada yang serupa dengan Allah.”
Kita tetapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan datang di hari tersebut.
22:48
وَٱلۡمَلَكُ صَفّٗا صَفّٗا
“Dan para malaikat juga akan bershaf-shaf.” [QS Al-Fajr: 22]
Allah Subhanahu wa Ta'ala datang, malaikat juga didatangkan oleh Allah dan mereka bershaf-shaf (berbaris). Ada yang mengatakan bahwasanya mereka (malaikat) akan mengitari manusia dan juga jin yang dikumpulkan (mengelilingi) mereka.
Shaf yang pertama adalah malaikat yang tinggal di langit yang pertama. Kemudian shaf kedua, dan ini lebih banyak lagi malaikatnya, karena langit yang kedua lebih besar daripada langit yang pertama, mereka bershaf yang kedua. Shaf ketiga adalah malaikat yang tinggal di langit yang ketiga. Dan seterusnya, sehingga di sana ada 7 shaf.
Mereka mengitari manusia dan juga jin yang dikumpulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala pada hari tersebut.
23:42
وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۭ بِجَهَنَّم
"Pada hari tersebut akan didatangkan Jahannam.”
Manusia di padang mahsyar dan mereka dalam keadaan takut, dalam keadaan mereka menunggu hari keputusan dan masing-masing mereka mengingat apa yang sudah mereka kerjakan di dunia. Di antara yang menambah takut mereka adalah didatangkan Jahannam saat itu.
Di dalam sebuah hadits Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mengatakan:
24:11
يؤتى بجهنم يومئذ لها سبعون ألف زمام مع كل زمام سبعون ألف ملك يجرونها
"Akan didatangkan pada hari tersebut dengan Jahannam dan dia memiliki 70 ribu tali kekang (tali yang digunakan untuk menyeret Jahannam).”
Jahannam saat itu memiliki 70 ribu tali kekang dan ini adalah jumlah yang banyak. Kemudian Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam mengatakan: "Bahwasanya setiap tali kekang yang jumlahnya 70 ribu dipegang oleh 70 ribu malaikat"
Berarti 70 ribu malaikat memegang satu tali kekang saja dan jumlah tali kekang Jahannam saat itu adalah 70 ribu tali kekang. Maka ini adalah jumlah yang sangat banyak sekali, kurang lebih 4,9 milyar.
Mereka adalah jumlah malaikat yang sangat banyak dan ini menunjukkan kepada kita tentang;
⑴ Banyaknya malaikat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
⑵ Besarnya Jahannam dan beratnya Jahannam, sehingga harus diseret oleh malaikat sebanyak itu.
Padahal malaikat adalah makhluk Allah yang kuat tapi ternyata Jahannam diseret dan ini menunjukkan tentang beratnya Jahannam tadi oleh 4,9 milyar malaikat.
Maka manusia saat itu mereka melihat Jahannam tadi dan ini tentunya semakin menambah ketakutan mereka.
25:48
يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ
Pada hari tersebut manusia akan mengingat, ingat tentang apa yang dia lakukan di dunia.
Tentang kekurangan yang dia lakukan di dunia di dalam mentaati Allah dan juga Rasul-Nya. Pada hari tersebut mereka ingat.
26:08
وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ
Lalu apa faedahnya mengingat pada hari tersebut?
Kalau ingat (misalnya) di hari tersebut, "Yaa Allah, kenapa dahulu di dunia tidak demikian dan demikian”. "Kenapa dahulu tidak mentaati suami”. "Kenapa dahulu di dunia tidak berbakti kepada kedua orang tua”. "Kenapa dahulu di dunia tidak shalat"
Thayyib. Apakah ada manfaatnya pada hari tersebut? Tidak ! Waktu sudah berlalu (sudah habis), kita sudah diberikan kesempatan di dunia.
26:38
وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ
Tidak ada faedahnya saat itu mengingat kembali apa yang sudah terjadi di dunia. Ini menunjukkan bahwasanya yang bermanfaat adalah sekarang ini. Kalau kita ingat sekarang ini, maka ini akan bermanfaat
Ingat tentang dosa kita, kemudian kita beristighfar memperbaiki amal shalih mendekatkan diri kepada Allah, ini yang bermanfaat. Bertaubat, beristighfar, tapi kalau sudah di akhirat kemudian seseorang mengingat apa yang dia lakukan di dunia maka ini sudah tidak ada manfaatnya.
27:16
وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ
Bagaimana akan bermanfaat bagi dia mengingat pada hari tersebut.
Beliau rahimahullah menyebutkan tentang satu dalil yang menunjukan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan datang di hari kiamat sesuai dengan keagungan-Nya. Di sana ada dalil-dalil lain, yang juga menunjukan tentang sifat ini.
Saya sebutkan di antaranya adalah apa yang Allah katakan di dalam surat Al-An'am ayat 158 Allah mengatakan,
27:49
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ
Yang artinya, "Mereka tidaklah menunggu kecuali kedatangan malaikat atau kedatangan Rabb-mu."
Yaitu orang-orang kafir yang mereka tidak beriman kepada Allah, tidak beriman kepada hari akhir, mendustakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Tidaklah mereka menunggu kecuali kedatangan malaikat yaitu nanti ketika mereka meninggal dunia. Atau kedatangan Allah Subhanahu wa Ta'ala,
28:31
أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ
"Atau kedatangan Allah"
Yang dimaksud kedatangan Allah di sini adalah di hari kiamat yaitu untuk memutuskan di antara manusia.
28:42
أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ
"Atau mereka menunggu kedatangan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah."
Dan yang dimaksud adalah terbitnya matahari dari arah Barat. Syahid ayat ini adalah firman Allah,
أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ
"Atau kedatangan Rabb-mu"
Ini maksudnya adalah di padang mahsyar kedatangan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memberikan keputusan di antara manusia.
Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam surat Al-Baqarah ayat 210, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan,
29:18
هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن يَأْتِيَهُمُ ٱللَّهُ فِى ظُلَلٍ مِّنَ ٱلْغَمَامِ وَٱلْمَلَٰئِكَةُ وَقُضِىَ ٱلْأَمْرُ
"Tidaklah mereka menunggu kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala akan datang kepada mereka di antara awan”,
29:34
هوَٱلْمَلَٰئِكَةُ
"Demikian pula para malaikat"
29:37
وَقُضِىَ ٱلْأَمْرُ
"Dan akan diputuskan seluruh perkara"
Ini juga semakna dengan dua ayat yang kita sebutkan, menunjukkan tentang kedatangan Allah Subhanahu wa Ta'ala di hari kiamat dan in syaa Allah perincian tentang masalah apa yang terjadi di padang mahsyar in syaa Allah kita akan perjelas ketika syaikh membahas tentang beriman dengan hari akhir.
Dan apa yang sudah disebutkan in syaa Allah sudah cukup karena maksud dari apa yang disampaikan oleh syaikh di paragraf ini. Maksudnya adalah masalah tentang keimanan kita dan kewajiban kita untuk beriman bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan datang di hari kiamat.
Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini dan in syaa Allah kita bertemu kembali pada pertemuan yang selanjutnya pada waktu dan keadaan yang lebih baik .
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈••••○○○••••┈┈┈•






0 komentar:
Posting Komentar