HALAQAH 13
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وَصحبِهِ ومن وَالَاه،
Para Santri HSI Akademi dimanapun antum berada waffaqakumullah jami’an,
Alhamdulillah kembali kita dimudahkan oleh Allah pada kesempatan kali ini untuk melanjutkan kajian tentang masalah aqidah.
Masih kita membahas kitab yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah yang berjudul Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, sebuah kitab yang ringkas berisi tentang aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang berintikan pada rukun iman yang 6.
Dan kita masih membahas pada rukun yang pertama yaitu beriman kepada Allah. Alhamdulillah pada kesempatan yang lalu kita sudah membaca bersama keterangan beliau tentang sifat datang dan juga sifat turun bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kita lanjutkan pada kesempatan kali ini, in syaa Allah kita akan bersama membahas tentang masalah sifat iradah bagi Allah.
⇒ Iradah artinya adalah berkehendak atau berkeinginan.
Beliau rahimahullah mengatakan:
01:13-01:18
ونؤمن بأنه تعالى: فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ
"Ahlus Sunnah wal Jama'ah beriman (meyakini, mempercayai) bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dia-lah yang 01:30-01:32 فعال لما يريد (Maha melakukan apa yang Dia kehendaki).”
01:40 Fa'alun (فعال) artinya adalah yang sangat melakukan apa yang dikehendaki. Fa'il (فعل) artinya yang melakukan.
Ayat ini menunjukkan kepada kita:
Pertama | Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat iradah, karena Allah mengatakan 02:01-02:02 فعال لما يريد (Dia-lah yang Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki).
Menunjukkan bahwasanya Allah memiliki sifat iradah sesuai dengan keagungan-Nya. Iradah Allah (kehendak Allah, keinginan Allah) tidak sama dengan keinginan yang kita miliki.
Makhluk memiliki kehendak, manusia memiliki iradah, jin juga memiliki iradah, hewan juga memiliki iradah dan Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat iradah dan sifat iradah Allah adalah sesuai dengan keagungan-Nya, sifat iradah yang sempurna. Tidak sama dengan sifat iradah yang dimiliki oleh makhluk. Maka jelas ayat ini menunjukkan kepada kita tentang sifat iradah ini.
Dan di sana ada ayat-ayat yang lain yang cukup banyak yang menunjukkan kepada kita semua tentang penetapan sifat iradah bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan (sekedar contoh saja) sebagian yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur'an di antaranya di dalan surat Al-Kahfi ayat 39.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan:
03:18-03:25
وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّه
Di sini disebutkan, “dan seandainya ketika engkau memasuki kebunmu, engkau mengatakan مَاشَآءَاللّهُ Ma syaa Allah (dengan kehendak Allah)”. Artinya kebun ini menjadi baik dan indah, subur seperti ini adalah dengan kehendak Allah.
Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam surat Al-Baqarah ayat 253.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan:
03:50-03:57
وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعْدِهِم مِّنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَـٰتُ
"Dan seandainya Allah menghendaki, niscaya orang-orang yang datang setelah mereka tidak akan saling berperang satu dengan yang lain.”
⇒ Kalau Allāh menghendaki, berarti Allah mempunyai kehendak.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan di dalam surat Al-Maidah ayat pertama.
04:14-04:16
إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيدُ
"Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki.”
Dan Allah mengatakan:
04:23-04:28
فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَـٰمِ
"Maka barangsiapa yang Allah kehendaki untuk diberikan hidayah, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membuka dadanya untuk menerima agama Islam.” [QS Al-An’am:125]
Ini adalah beberapa ayat yang menunjukkan kepada kita semuanya bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat iradah
Dan di dalam ayat ini Allah mengatakan:
04:51-04:52
فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ
"Allah Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki.”
Berbeda dengan makhluk, ini bedanya antara kita dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
⇒ Beda antara iradah kita dengan iradah Allah.
Kalau Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka Allah Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki.
05:11-05:16
إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
"Sesungguhnya urusan Allah, apabila Allah menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.” [QS Yasin: 82]
Itu adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Di dalam ayat yang lain Allah mengatakan:
05:35-05:37
إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيد
"Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia kehendaki”. [QS Al-Hajj:14]
Adapun makhluk (kita semua) maka kita adalah makhluk yang 05:45 مُدَبَّر-mudabbar. Dan kehendak kita di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita laksanakan.
Ada di antara kita yang ingin menjadi seorang dokter, tapi tidak sampai dia menjadi seorang dokter, banyak yang menghalangi (mungkin) dari sisi biaya, kemampuan.
Ada di antara kita yang ingin belajar di Saudi Arabia, dia punya keinginan yang kuat, semangat yang kuat, sudah melakukan berbagai cara, berbagai sebab namun hanya sebatas angan-angan atau sebatas keinginan saja. Belum ditakdirkan oleh Allah (belum tercapai).
Keadaan kita demikian, kita memiliki iradah tetapi tidak semua apa yang kita kehendaki (semua yang kita inginkan) kemudian bisa kita laksanakan (bisa kita capai).
Ini menunjukkan kepada kita bedanya iradah Allah dengan iradah makhluk.
Kemudian syaikh menjelaskan:
06:47-06:52
ونؤمن بأن إرادته تعالى نوعان :
Dan kita (Ahlus Sunnah) beriman bahwasanya kehendak (iradah) Allāh Ta'ala ada 2 (dua) jenis:
Darimana kita mengatakan ucapan demikian?
Darimana kita mengetahui iradah Allāh ada 2 (dua)?
Tidak lain kecuali kita kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits
Apakah di sana ada Qur'an atau Hadits yang menyebutkan iradah ada 2 (dua)? Tentunya tidak! Para ulama menyimpulkan yang demikian dari istiqra' yaitu membaca secara keseluruhan, meneliti secara keseluruhan dalil-dalil yang ada di dalam Al-Qur'an dan Hadits, kemudian mereka menyimpulkan (menemukan) bahwasanya iradah Allāh ada 2 (dua) jenis.
Dan ini banyak dilakukan oleh para ulama dari berbagai cabang ilmu, mereka membuat taqsimat (pembagian-pembagian seperti ini) berdasarkan penelitian secara menyeluruh.
Dan ini sangat bermanfaat sekali ketika seseorang bisa mengetahui sesuatu terbagi menjadi sekian, jenis yang pertama adalah demikian, jenis yang kedua maknanya demikian, ini sangat bermanfaat sekali.
Dengannya kita bisa memahami banyak perkara, terkadang sesatnya seseorang atau sebuah aliran disebabkan karena dia tidak mengetahui pembagian dari sesuatu. Sehingga menganggap semuanya sama, kemudian dihukumi sama rata.
Padahal di situ ada beberapa jenis, oleh karena itu perlu seseorang khususnya para penuntut ilmu untuk memperhatikan masalah ini (yaitu) adanya pembagian-pembagian.
Di sini beliau mengatakan: ”Kita beriman bahwasanya iradah Allāh terbagi menjadi dua”.
Apakah dua perkara tadi?
⑴ Iradah Kauniyyah (كونية)
Iradah yang berkaitan dengan kejadian alam semesta.
Kemudian beliau menjelaskan di sini apa makna iradah kauniyyah.
09:07-09:12
يقع بها مراده ولا يلزم أن يكون محبوباً له
Iradah kauniyyah ini apa yang diinginkan oleh Allāh terjadi (يقع بها).
Kemudian beliau menambahkan:
09:25-09:29
ولا يلزم أن يكون محبوبا له
Dan tidak lazim (tidak harus) apa yang terjadi itu dicintai oleh Allāh.
Iradah kauniyyah adalah:
⑴ Kehendak Allāh dan pasti terjadi.
⑵ Tidak harus sesuatu yang dicintai oleh Allāh.
Terkadang dicintai oleh Allāh, dikendaki oleh Allāh dan dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan terkadang dikehendaki oleh Allāh terjadi, tetapi dia tidak dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Misalnya:
√ Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan ketaatan dan juga maksiat (ini adalah iradah kauniyyah).
√ Allāh menciptakan orang yang beriman dengan orang yang kafir (terjadi dengan iradah kauniyyah).
Allāh menghendaki di sana adanya maksiat dan maksiat tidak dicintai oleh Allāh dan terjadi dengan kehendak Allāh.
Misalnya orang yang minum khamr, orang yang berzinah, orang yang melakukan riba. Mereka melakukan itu dan itu semua dengan kehendak Allāh (masuk dalam kehendak Allāh) dan tidak mungkin terjadi di dunia ini sesuatu yang keluar dari kehendak Allāh, semuanya dengan kehendak Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Demikian pula orang yang taat, terjadi dengan iradah kauniyyah Allāh Subhānahu wa Ta’āla ditambah nanti akan disebutkan, plus iradah syar'iyyah juga. Tergabung dua iradah ini pada diri seorang yang beriman. Secara kauniyyah dikehendaki oleh Allāh, secara syar'iyyah diinginkan oleh Allāh menjadi orang yang bertakwa (beriman).
⇒ Jadi iradah kauniyyah yang ingin kita sampaikan ini tidak melazimkan dia dicintai oleh Allāh.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan maksiat dan Allāh tidak cinta dengan kemaksiatan, dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan orang kafir dan Allāh tidak cinta dengan orang kafir.
Allāh menciptakan di sana ada orang yang zhalim dan Allāh tidak cinta dengan orang yang zhalim.
11:39-11:43
وهي التي بمعنى المشيئة
Dan inilah yang semakna dengan al-masyi’ah.
Jadi di sana ada al-masyi'ah, di sana ada iradah kauniyyah (ini sama maknanya). Kalau digunakan di dalam Al-Qur'an “al-masyi'ah” maka yang dimaksud adalah iradah kauniyyah.
⇒ Nama lain (sinonim), sama antara al-masyi'ah dengan al-iradah al-kauniyyah
12:07-12:14
كقوله تعالى: وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلُوا۟ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
Contoh dari iradah kauniyyah (seperti) firman Allāh
وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلُوا۟ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيد
karena iradah kauniyyah sama masyi'ah.
Di sini beliau mengatakan, mendatangkan firman Allāh, 12:23 كقوله (seperti firman Allāh)
12:24-12:25
وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ
seandainya Allāh menghendaki (niscaya mereka tidak saling berperang).
⇒ Maka al-masyi'ah di sini adalah nama lain dari iradah al-kauniyyah.
12:41-12:44
وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
"Akan tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla melakukan apa yang Dia kehendaki.”
Yaitu iradah kauniyyah, ini menunjukkan tentang iradah kauniyyah bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Sebagian mengatakan, Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mencintai adanya 13:00 ٱقْتَتَل (saling berperang satu dengan yang lain) tetapi kenapa di sini dikehendaki oleh Allāh?
Kehendak di sini adalah kehendak kauniyyah, bukan kehendak syar'iyyah.
13:11-13:13
وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلُو
Seandainya Allāh menghendaki niscaya mereka tidak akan saling berperang satu dengan yang lain.
Masyi'ah di sini adalah iradah kauniyyah dan iradah kauniyyah tidak harus sesuatu yang dicintai oleh Allāh Azza wa Jalla.
Beliau rahimahullah mengatakan:
13:33-13:38
وشرعية: لا يلزم بها و وقوع المراد
⑵ Iradah Syar'iyyah
Iradah yang berkaitan dengan syari'at, maka iradah yang seperti ini tidak melazimkan (tidak mengharuskan) terjadi apa yang dikehendaki oleh Allāh.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan syari'at, Allāh menginginkan manusia beriman kepada rasul, bertauhid, melakukan ketaatan kepada Allāh. Itu yang ada dalam syari'at Allāh Subhānahu wa Ta’āla, itu yang Allāh inginkan.
Allāh turunkan Al-Qur'an, Allāh turunkan kitab-kitab sebelumnya, Allāh utus para rasul. Allāh ingin supaya manusia beriman, supaya manusia menjadi orang-orang yang taat, dengan demikian mereka mendapatkan keberuntungan di dunia dan juga di akhirat.
Apakah apa yang Allāh inginkan dengan menurunkan syari'at mengutus para rasul tadi terjadi? Jawabannya "tidak!" atau “tidak semuanya” terjadi.
14:38-14:41
فَمِنْهُم مَّنْ ءَامَنَ وَمِنْهُم مَّن كَفَرَ
"Ada di antara mereka yang beriman dan ada di antara mereka yang kafir.”
[QS Al-Baqarah: 253]
Beriman sesuai dengan yang dikehendaki Allāh dan ada di antara mereka yang kafir, tidak beriman dengan rasul yang diutus kepada mereka, tidak beriman dengan Al-Qur'an, tidak beriman dengan hari akhir. Padahal Allāh Subhānahu wa Ta’āla menginginkan dengan syari'at tadi supaya mereka beriman. Menunjukkan bahwasanya iradah syar'iyyah ini tidak harus terjadi.
Maka kita harus bedakan antara iradah syar'iyyah dengan iradah kauniyyah. Kauniyyah pasti terjadi, adapun syar'iyyah belum tentu terjadi.
Kemudian syaikh menjelaskan:
15:23-15:28
ولا يكون المراد فيها إلا محبوباًله
"Dan tidaklah apa yang diinginkan oleh Allāh dengan iradah syar'iyyah ini kecuali sesuatu yang dicintai oleh Allāh.”
Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki iradah syar'iyyah dan tidaklah apa yang diinginkan oleh Allāh dengan iradah syar'iyyah ini kecuali sesuatu yang dicintai oleh Allāh.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki iradah syar'iyyah; mencintai yang namanya shalat, puasa, ibadah, haji, berbuat baik kepada orang lain. Ini adalah sesuatu yang dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla menginginkan manusia untuk melakukan amalan-amalan ini, maka iradah syar'iyyah tidaklah yang diinginkan oleh Allāh dengan iradah syar'iyyah ini kecuali sesuatu yang dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dan ini belum tentu terjadi.
16:20-16:21
كقوله تعالى:
Seperti misalnya firman Allāh
16:25-16:29
وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ
Contoh dari iradah syar'iyyah adalah apa yang Allāh sebutkan
16:34-16:36
وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ
dan Allāh ingin untuk memberikan taubat kepada kalian
Apakah semua orang bertaubat? Jawabannya,"Tidak!"
Ada di antara manusia yang segera dia bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla setelah berdosa, setelah lalai dengan Allāh, lupa dengan Allāh, setelah menjauh dari Allāh. Tapi ada di antara manusia yang dalam keadaan dia terus melakukan dosa dan juga maksiat, padahal Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin memberikan ampunan kepada mereka. Menunjukkan bahwasanya iradah di sini adalah iradah syar'iyyah.
Yang disebutkan oleh syaikh di sini hanya sekedar contoh saja, sementara di sana banyak lagi dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki iradah syar'iyyah yang intinya adalah mahabbah yaitu kecintaan Allāh supaya makhluk itu melakukan apa yang diinginkan oleh Allāh.
17:38-17:40
وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ
"Dan Allāh menginginkan untuk memberikan taubat kepada kalian.”
Contoh yang lain dari ayat yang menunjukkan tentang iradah syar'iyyah adalah firman Allāh:
17:50-17:54
يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ
"Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin memudahkan kalian dan tidak menginginkan untuk menyulitkan kalian.” [QS Al-Baqarah:185]
Beliau rahimahullah mengatakan,
18:07-18:14
و نؤ من بأن مراده الكوني والشرعي تابع لحكمته
Dan kita (Ahlus Sunnah) beriman bahwasanya apa yang dikehendaki oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, baik yang kauniyyah maupun yang syar’iyyah, baik iradah kauniyyah maupun iradah syar’iyyah, keduanya
18:32-18:35
تابع لحكمته
Ini mengikuti hikmah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Jadi meskipun Allāh Subhānahu wa Ta’āla,
18:42-18:43
فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ
"Allāh Maha melakukan apa yang Dia kehendaki”.
Adapun makhluk maka mereka tidak demikian, dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan syari'at sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, mensyariatkan sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, namun kita beriman dan kita yakini bahwasanya apa yang Allāh kehendaki, baik yang kauniyyah maupun yang syar’iyyah itu, mengikuti hikmah Allāh.
Di antara sifat Allāh adalah memiliki hikmah. Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,
19:17-19:18
والله عَلِيم حَكِيم
”Dan Allāh itu Maha Mengetahui dan Maha bijaksana.”
19:26-19:28
إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
"Sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana" [QS Al Insan: 30]
Artinya hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tidak zhalim, tetapi menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jadi, meskipun Allāh Subhānahu wa Ta’āla Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki tapi apa yang Allāh kehendaki sesuai dengan hikmah.
Jadi ini berbeda dengan manusia. Kalau kita dikatakan kepada salah seorang diantara kita, "kerjakan apa yang engkau inginkan, mintalah apa yang engkau inginkan".
Ketika mendengar ucapan ini, maka terkadang sebagian dari kita atau bahkan sebagian besar dari kita, kemudian menyampaikan apa yang dia inginkan tetapi tanpa hikmah. Menyebutkan apa yang diinginkan tetapi tanpa hikmah. Itu keadaan kita.
Tapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla meskipun Allāh 20:27-20:28 فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيد tapi ini semua mengikuti hikmah Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Allāh Subhānahu wa Ta’āla apabila menciptakan sesuatu, menyesatkan fulan, memberikan hidayah kepada fulan, menghidupkan, mematikan, menggerakkan, mendiamkan maka itu semua dilakukan oleh Allāh dengan hikmah.
Demikian pula di dalam syariat, Allāh Subhānahu wa Ta’āla mensyariatkan shalat lima waktu, subuh dua rakaat, dhuhur empat rakaat, ashar empat rakaat, kenapa sujudnya dua kali, ruku'nya satu kali, itu semua adalah dengan hikmah. Jangan kita mengira Allāh Subhānahu wa Ta’āla mensyariatkan itu semua tanpa ada hikmah dan kosong dari tujuan. Pasti itu semuanya ada hikmah.
21:15-21:17
إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
"Allāh itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” [QS Al Insan: 30]
Semuanya ada hikmahnya, baik dalam hal yang berkaitan dengan iradah kauniyyah maupun dengan iradah syar’iyyah. Cuma apakah semua hikmah itu kita ketahui ?
Jawabannya tidak, karena akal kita terlalu pendek, akal kita terlalu kurang, untuk bisa memahami hikmah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Tapi kita sebagai orang yang beriman, yakin seyakin-yakinnya bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah Maha Bijaksana di dalam seluruh perkaranya, iradah syar’iyyah maupun iradah kauniyyah.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,
21:58-22:04
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
"Apakah kalian mengira bahwasanya kami menciptakan kalian عَبَثاً dalam keadaan sia-sia? Dan bahwasanya kalian tidak akan kembali kepada Kami?” [QS Al Mukminun: 115]
Menunjukkan bahwasanya, apa yang Allāh ciptakan di dunia ini semuanya dengan hikmah. Allāh tidak menciptakan sekecil apapun عَبَثاً (sia-sia), termasuk makhluk yang ada disekitar kita yang kita tidak melihatnya atau yang ada di dalam tubuh kita yang dia berjalan kita tidak mengetahui dan tidak merasakan jalannya dia. Itu Allāh ciptakan dengan hikmah, pasti! Tidak Allāh ciptakan begitu saja tanpa adanya hikmah.
Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan dalam ayat yang lain,
22:47-22:52
وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَٰعِبِينَ
"Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan juga bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam keadaan bermain-main.” [QS Anbiya: 16]
Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan dengan kesungguhan dan dengan hikmah. Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan apa yang ada di antara langit dan bumi. Allāh ciptakan itu dengan hikmah. Awan yang berjalan, kenapa di hari ini berjalannya pelan, kenapa besok dia cepat, kenapa mendung berada di atas daerah A kenapa tidak di daerah B. Semuanya dengan hikmah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Inilah yang harus kita pahami.
Kalau kita bisa memahami yang demikian, maka ini In syaa Allāh, bi idznillah akan menjadikan kita semangat untuk taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan meninggalkan kemaksiatan. Seseorang melakukan ketaatan kepada Allāh, melakukan shalat, berpuasa, berzakat, berhaji dan yakin bahwasanya di balik itu semua ada hikmah yang dalam.
Demikian pula semangat untuk meninggalkan berbagai macam dosa dan juga kemaksiatan. Yakin bahwasanya Allāh ketika mengharamkan sesuatu pasti di situ ada kejelekan dan juga mudharat bagi manusia. Kenapa Allāh mengharamkan zina, kenapa Allāh mengharamkan riba, kenapa Allāh mengharamkan minuman keras, pasti di sana ada mudharat.
Sehingga zaman sekarang banyak penemuan-penemuan, penelitian-penelitian yang mencengangkan dunia, padahal ini sudah dibahas dan sudah turun syariatnya kurang lebih seribu empat ratus tahun yang lalu. Sekarang mereka meneliti dan menemukan, bahwasanya diharamkannya sebuah perkara atau suatu perkara ini di dalamnya ada mafsadah, ada kerusakan demikian dan demikian.
Zina misalnya, betapa banyak penyakit-penyakit kelamin yang ditimbulkan oleh zina, homosex. Kemudian juga riba, apa akibatnya bagi manusia, bagi masyarakat. Minum minuman keras juga demikian. Banyak orang yang justru menambah keresahan dia, kemudian membawa dia untuk melakukan kemaksiatan yang lain, karena dari minum minuman keras ini, kemudian akhirnya dia berzina, bahkan menghalalkan zina, nauzubillah min zalik, atau berzina dengan keluarganya, kemudian diiringi dengan pembunuhan dan seterusnya.
Maka ketahuilah, bahwasanya di dalam syari'at Allāh maupun apa yang Allāh takdirkan di alam semesta ini, pasti di sana ada hikmah yang dalam.
Beliau rahimahullah mengatakan,
25:36-25:44
فكل ما قضاه كونا أو تعبد به خلقه شرعا فإنه لحكمة
Maka seluruh apa yang Allāh takdirkan di alam semesta ini atau apa yang digunakan oleh para makhluk untuk beribadah kepada Allāh, maka sesungguhnya semua itu ada hikmahnya. Baik syariat maupun di dalam apa yang Allāh takdirkan, pasti di sana ada hikmahnya.
26:05-26:15
وعلى وفق الحكمة سواء علمنا منها مانعلم أو تقاصرت عقو لنا عن ذلك:
Dan sesuai dengan hikmah, itu adalah untuk hikmah tujuan tertentu dan dia sesuai dengan hikmah bukan sebuah kedzaliman.
Syariat Allāh tidak ada di dalamnya kedzaliman. Dan apa yang Allāh lakukan di alam semesta ini, apa yang Allāh takdirkan tidak ada di dalamnya kedzaliman. Yang ada hanyalah keutamaan dari Allāh dan juga ada keadilan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ada dua kemungkinan saja;
1. Keutamaan dari Allāh, karunia dari Allāh
2. Keadilan,
Adapun yang ketiga kedzaliman, maka ini tidak mungkin terjadi di dalam syariat Allāh dan tidak mungkin terjadi di alam semesta ini. Dalam ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,
27:03-27:06
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
"Sesungguhnya Allāh tidak akan mendzalimi meskipun hanya sebesar dzaroh.” [QS An Nisa: 40]
Yang dimaksud dengan dzaroh adalah semut yang kecil. Demikian pula Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,
27:19-27:22
وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعَـٰلَمِينَ
"Dan tidaklah Allāh menginginkan untuk mendzalimi manusia (untuk mendzalimi alam semesta).” [QS Ali-Imran: 108]
Dan di dalam hadits qudsi Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,
27:33-27:41
يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا
"Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kedzaliman atas diriKu, dan Aku telah menjadikan kedzaliman tadi sesuatu yang diharamkan di antara kalian, Maka janganlah kalian saling mendzalimi satu dengan yang lain.” [HR Muslim: 6373]
Berarti di sini kita mengetahui Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah hakim yang Maha Bijaksana, baik di dalam yang Allāh takdirkan maupun yang Allāh syariatkan.
28:11-28:13
سواء علمنا منها ما نعلم أوتقاصرت عقو لنا عن ذلك:
Sama saja apakah hikmah tadi kita ketahui atau akal kita ini terlalu pendek untuk bisa memahami hikmah tadi.
Jadi terkadang hikmah yang ada dalam syariat atau yang ada dalam apa yang Allāh takdirkan itu 28:35 معلوم (sesuatu yang kita ketahui dengan mudah), tapi pada kesempatan yang lain kita tidak mengetahuinya. Maka ini semua adalah karena akal kita yang lemah.
Jangankan memahami masalah hikmah. Ada perkara yang dia ada di dalam jasad kita dan sangat dekat dengan kita, tapi kita tidak mengetahuinya karena akal kita yang terlalu lemah. Nyawa atau ruh misalnya.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,
29:06-29:13
وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا [QS Al Isra': 85]
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh (tentang nyawa) yang ada di dalam diri manusia, yang kalau nyawa ini berpisah dari kita, maka kita akan meninggal dunia.
Sesuatu yang sangat dekat dengan kita, kita tidak mengetahui hakekatnya. Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Dialah saja yang mengetahui tentang hakekat dari ruh ini
29:34-29:39
قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Dan tidaklah kalian diberikan dari ilmu ini kecuali sangat sedikit saja.
Ini menunjukkan bagaimana lemahnya manusia, bagaimana 29:48 ضعف - nya mereka, lemahnya akal mereka. Kalau kita sudah mengetahui bahwasanya apa yang Allāh takdirkan, apa yang Allāh syariatkan ini di dalamnya ada hikmah, maka seseorang bersemangat untuk menjalankan ketaatan dan dia semangat untuk meninggalkan kemaksiatan.
Di samping itu, orang yang memahami bahwasanya di setiap perkara pasti ada hikmahnya, ketika dia mendapatkan musibah misalnya, maka dia yakin bahwasanya di dalam musibah yang menimpa dia pasti ada hikmahnya. Kehilangan anak atau kehilangan harta, atau tabrakan misalnya, laqadarullah, atau musibah-musibah yang lain yang menimpa baik kehormatan seseorang, harta seseorang, maupun fisik seseorang.
Ketika seseorang kembali kepada dalil dan bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka Allāh Maha bijaksana maka akan timbul di dalam hatinya apa? Ketenangan. Yakin bahwa di balik musibah pasti ada hikmahnya
Ada sebuah kisah yang mungkin bermanfaat.
Seseorang yang dia sudah habis masa kontraknya, yaitu kontrak rumahnya. Padahal dia memiliki keluarga yang banyak. Akhirnya ia berusaha untuk mencari rumah kontrakan yang lain, berusaha dan kesulitan untuk mendapatkan rumah kontrakan yang sesuai dengan apa yang dia miliki, sesuai dengan kemampuan dia, sesuai dengan sifat yang dia inginkan.
Sampai Alhamdulillah Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan dia menemukan rumah yang dia inginkan, akhirnya terjadilah kesepakatan antara dia dan pemilik rumah tadi dan sudah hampir dia dan juga keluarganya mau menempati rumah tersebut. Tapi ternyata yang memiliki rumah tadi membatalkan perjanjian.
Antum bisa bayangkan bagaimana perasaan seorang bapak tadi, seorang kepala rumah tangga yang dia bertanggung jawab dan dia sudah senang dan juga keluarganya, akan pindah ke rumah yang baru, setelah bersusah payah untuk mendapatkan rumah tadi, ternyata dibatalkan. Terpaksalah dia mencari rumah yang lain, yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan dia.
Beberapa hari setelah itu dia mendengar atau sampai kepadanya kabar bahwasanya rumah yang hampir saja mereka sewa tadi roboh. Barulah di situ dia memuji Allāh Subhānahu wa Ta’āla setelah sebelumnya mungkin ada di dalam hatinya sebuah perasaan, di dalamnya seakan akan tidak ridho dengan takdir Allāh Subhānahu wa Ta’āla, atau menunjukkan perasaan tidak sabar.
Setelah itu dia baru bisa memahami, ternyata di dalam musibah tadi ada hikmahnya. Kenapa dia dibatalkan perjanjiannya, ternyata Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin menyelamatkan dia dan juga keluarganya dari musibah yang lebih besar.
Demikian seorang yang beriman harusnya dia berpikir ketika dia mendapatkan musibah (musibah apa saja) dia yakin bahwasanya dibalik musibah itu pasti di sana ada hikmah.
Syaikh mendatangkan firman Allāh Azza wa Jalla,
33:08-33:10
أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَحْكَمِ ٱلْحَٰكِمِينَ
"Bukankah Allāh Dialah yang paling bijaksana.” [QS At-Tin: 8]
Masuk di dalamnya adalah bijaksana di dalam syariat dan bijaksana dalam masalah takdir. Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,
33:23-33:27
وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
"Dan siapakah yang lebih baik (hukumnya) daripada Allāh? Bagi orang-orang yang yakin.” [QS Al Maidah: 50]
Orang yang yakin, orang yang beriman, maka dia akan mengatakan bahwasanya hukum Allāh adalah hukum yang paling baik, karena hukum Allāh berdasarkan ilmu, berdasarkan kebijaksanaan, bukan berdasarkan hawa nafsu, bukan karena dipaksa oleh yang lain.
33:57-34:00
وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
"Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allāh? Bagi orang-orang yang yakin.”
Ini adalah apa yang disebutkan oleh syaikh tentang masalah sifat iradah bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Pembahasan Iradah ini juga akan dibahas ketika kita membahas tentang masalah beriman dengan takdir. Tentang masalah iradah juga akan dibahas nanti ketika kita membahas tentang rukun iman yang terakhir yaitu beriman dengan takdir Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dibahas dalam iman kepada Allāh karena berkaitan dengan sifat iradah. Sifat iradah adalah di antara sifat sifat Allāh yang harus kita tetapkan bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Di akhir pertemuan ini kita akan memberikan kesimpulan dan juga ringkasan.
1. Bahwasanya di antara sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah sifat iradah yaitu sifat berkehendak, sifat berkeinginan. Sesuai dengan keagungan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Tidak sama dengan iradah yang dimiliki oleh makhluk.
35:14-35:15
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
"Tidak ada yang serupa dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.” [QS Asy Syuura: 11]
2. Bahwasanya iradah Allāh terbagi menjadi dua:
▪ Pertama: Iradah Kauniyyah,
▪ Kedua: Iradah Syar'iyyah.
Apa perbedaan keduanya?
• Iradah Kauniyyah pasti terjadi dan dia tidak harus sesuatu yang dicintai oleh Allāh.
• Adapun iradah Syar'iyyah tidak pasti terjadi, dan dia adalah sesuatu yang pasti dicintai oleh Allāh. Allāh Subhānahu wa Ta’āla mencintai keimanan manusia, maka ini adalah iradah Syar’iyyah. Tapi iradah ini belum tentu terjadi. Banyak di antara mereka yang tidak beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
3. Bahwasanya di dalam sesuatu yang diinginkan oleh Allāh, baik dengan Iradah Kauniyyah maupun Iradah Syar'iyyah pasti di situ mengikuti hikmah Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Tidak mungkin keluar dari hikmah Allāh baik dari segi syari'atnya maupun di dalam apa yang Allāh takdirkan.
4. Tidak semua hikmah tadi diketahui oleh manusia. Ada di antara hikmah yang diketahui oleh manusia dan ada di antaranya tidak diketahui oleh manusia, dan kewajiban kita adalah beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla melakukan apa yang dikehendaki dan apa yang dikehendaki oleh Allāh pasti di sana ada hikmahnya.
Akhirnya kita sampai pada akhir dari pertemuan kali ini. Kita berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepada kita semuanya dan menjaga hati kita, menetapkan kita di atas agama Islam sampai kita bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Itulah yang bisa kita sampaikan.
واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركات
•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•










