Manfaat Mengingat Mati

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (dunia), yakni kematian.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi. Dan di-Hasan-kan oleh syeikh Al-Albani).

Keuatamaan Berinfaq Sadaqah

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.

Hati yang Bersih

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Lisan Cermin Seseorang

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tathayyur

Jika mempercayai kupu2 yang masuk rumah itu akan ada tamu yang datang, atau ketika cicak berbunyi saat selesai berbicara artinya perkataannya benar, atau kepercayaan2 lain yang menyerupai hal di atas apakah digolongkan syirik ?.

Jumat, 25 Juli 2025

SIFAT IRADAH ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA

 HALAQAH 13 

بسم اللّه الرحمن الرحيم


السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وَصحبِهِ  ومن وَالَاه،

Para Santri HSI Akademi dimanapun antum berada waffaqakumullah jami’an,

Alhamdulillah kembali kita dimudahkan oleh Allah pada kesempatan kali ini untuk melanjutkan kajian tentang masalah aqidah.

Masih kita membahas kitab yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah yang berjudul Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, sebuah kitab yang ringkas berisi tentang aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang berintikan pada rukun iman yang 6.

Dan kita masih membahas pada rukun yang pertama yaitu beriman kepada Allah. Alhamdulillah pada kesempatan yang lalu kita sudah membaca bersama keterangan beliau tentang sifat datang dan juga sifat turun bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kita lanjutkan pada kesempatan kali ini, in syaa Allah kita akan bersama membahas tentang masalah sifat iradah bagi Allah.

⇒ Iradah artinya adalah berkehendak atau berkeinginan.

Beliau rahimahullah mengatakan:

01:13-01:18

ونؤمن بأنه تعالى: فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

"Ahlus Sunnah wal Jama'ah beriman (meyakini, mempercayai) bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dia-lah yang 01:30-01:32 فعال لما يريد (Maha melakukan apa yang Dia kehendaki).”

01:40 Fa'alun (فعال) artinya adalah yang sangat melakukan apa yang dikehendaki. Fa'il (فعل) artinya yang melakukan.

Ayat ini menunjukkan kepada kita:

Pertama | Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat iradah, karena Allah mengatakan 02:01-02:02 فعال لما يريد (Dia-lah yang Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki).

Menunjukkan bahwasanya Allah memiliki sifat iradah sesuai dengan keagungan-Nya. Iradah Allah (kehendak Allah, keinginan Allah) tidak sama dengan keinginan yang kita miliki. 

Makhluk memiliki kehendak, manusia memiliki iradah, jin juga memiliki iradah, hewan juga memiliki iradah dan Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat iradah dan sifat iradah Allah adalah sesuai dengan keagungan-Nya, sifat iradah yang sempurna. Tidak sama dengan sifat  iradah yang dimiliki oleh makhluk. Maka jelas ayat ini menunjukkan kepada kita tentang sifat iradah ini. 

Dan di sana ada ayat-ayat yang lain yang cukup banyak yang menunjukkan kepada kita semua tentang penetapan sifat iradah bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan (sekedar contoh saja) sebagian yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur'an di antaranya di dalan surat Al-Kahfi ayat 39.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan:

03:18-03:25

وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّه

Di sini disebutkan, “dan seandainya ketika engkau memasuki kebunmu, engkau mengatakan مَاشَآءَاللّهُ Ma syaa Allah (dengan kehendak Allah)”. Artinya kebun ini menjadi baik dan indah, subur seperti ini adalah dengan kehendak Allah.

Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam surat Al-Baqarah ayat 253.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan:

03:50-03:57

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعْدِهِم مِّنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَـٰتُ

"Dan seandainya Allah menghendaki, niscaya orang-orang yang datang setelah mereka tidak akan saling berperang satu dengan yang lain.”

⇒ Kalau Allāh menghendaki, berarti Allah mempunyai kehendak. 

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan di dalam surat Al-Maidah ayat pertama.

04:14-04:16

إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ مَا يُرِيدُ

"Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki.”

Dan Allah mengatakan:

04:23-04:28

فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَـٰمِ

"Maka barangsiapa yang Allah kehendaki untuk diberikan hidayah, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membuka dadanya untuk menerima agama Islam.” [QS Al-An’am:125]

Ini adalah beberapa ayat yang menunjukkan kepada kita semuanya bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat iradah

Dan di dalam ayat ini Allah mengatakan:

04:51-04:52

فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

"Allah Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki.”

Berbeda dengan makhluk, ini bedanya antara kita dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

⇒ Beda antara iradah kita dengan iradah Allah.

Kalau Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka Allah Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki.

05:11-05:16

إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

"Sesungguhnya urusan Allah, apabila Allah menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.” [QS Yasin: 82]

Itu adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Di dalam ayat yang lain Allah mengatakan:

05:35-05:37

إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيد

"Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia kehendaki”. [QS Al-Hajj:14]

Adapun makhluk (kita semua) maka kita adalah makhluk yang 05:45 مُدَبَّر-mudabbar. Dan kehendak kita di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita laksanakan.

Ada di antara kita yang ingin menjadi seorang dokter, tapi tidak sampai dia menjadi seorang dokter, banyak yang menghalangi (mungkin) dari sisi biaya, kemampuan.

Ada di antara kita yang ingin belajar di Saudi Arabia, dia punya keinginan yang kuat, semangat yang kuat, sudah melakukan berbagai cara, berbagai sebab namun hanya sebatas angan-angan atau sebatas keinginan saja. Belum ditakdirkan oleh Allah (belum tercapai). 

Keadaan kita demikian, kita memiliki iradah tetapi tidak semua apa yang kita kehendaki (semua yang kita inginkan) kemudian bisa kita laksanakan (bisa kita capai).

Ini menunjukkan kepada kita bedanya iradah Allah dengan iradah makhluk.

Kemudian syaikh menjelaskan:

06:47-06:52

ونؤمن بأن إرادته تعالى نوعان :

Dan kita  (Ahlus Sunnah) beriman bahwasanya kehendak (iradah) Allāh Ta'ala ada 2 (dua) jenis:

Darimana kita mengatakan ucapan demikian? 

Darimana kita mengetahui iradah Allāh ada 2 (dua)?

Tidak lain kecuali kita kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits

Apakah di sana ada Qur'an atau Hadits yang menyebutkan iradah ada 2 (dua)? Tentunya tidak! Para ulama menyimpulkan yang demikian dari istiqra' yaitu membaca secara keseluruhan, meneliti secara keseluruhan dalil-dalil yang ada di dalam Al-Qur'an dan Hadits, kemudian mereka menyimpulkan (menemukan) bahwasanya iradah Allāh ada 2 (dua) jenis.

Dan ini banyak dilakukan oleh para  ulama dari berbagai cabang ilmu, mereka membuat taqsimat (pembagian-pembagian seperti ini) berdasarkan penelitian secara menyeluruh. 

Dan ini sangat bermanfaat sekali ketika seseorang bisa mengetahui sesuatu terbagi menjadi sekian, jenis yang pertama adalah demikian, jenis yang kedua maknanya demikian, ini sangat bermanfaat sekali.

Dengannya kita bisa memahami banyak perkara, terkadang sesatnya seseorang atau sebuah aliran disebabkan karena dia tidak mengetahui pembagian dari sesuatu. Sehingga menganggap semuanya sama, kemudian dihukumi sama rata.

Padahal di situ ada beberapa jenis, oleh karena itu perlu seseorang khususnya para penuntut ilmu untuk memperhatikan masalah ini (yaitu) adanya pembagian-pembagian.

Di sini beliau mengatakan: ”Kita beriman bahwasanya iradah Allāh terbagi menjadi dua”.

Apakah dua perkara tadi?

⑴ Iradah Kauniyyah (كونية)

Iradah yang berkaitan dengan kejadian alam semesta.

Kemudian beliau menjelaskan di sini apa makna iradah kauniyyah.

09:07-09:12

يقع بها مراده ولا يلزم أن يكون محبوباً له 

Iradah kauniyyah ini apa yang diinginkan oleh Allāh terjadi (يقع بها).

Kemudian beliau menambahkan:

09:25-09:29

ولا يلزم أن يكون محبوبا له 

Dan tidak lazim (tidak harus) apa yang terjadi itu dicintai oleh Allāh.

Iradah kauniyyah adalah:

⑴ Kehendak Allāh dan pasti terjadi.

⑵ Tidak harus sesuatu yang dicintai oleh Allāh.

Terkadang dicintai oleh Allāh, dikendaki oleh Allāh dan dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan terkadang dikehendaki oleh Allāh terjadi, tetapi dia tidak dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Misalnya:

√ Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan ketaatan dan juga maksiat (ini adalah iradah kauniyyah).

√ Allāh menciptakan orang yang beriman dengan orang yang kafir (terjadi dengan iradah kauniyyah).

Allāh menghendaki di sana adanya maksiat dan maksiat tidak dicintai oleh Allāh dan terjadi dengan kehendak Allāh. 

Misalnya orang yang minum khamr, orang yang berzinah, orang yang melakukan riba. Mereka melakukan itu dan itu semua dengan kehendak Allāh (masuk dalam kehendak Allāh) dan tidak mungkin terjadi di dunia ini sesuatu yang keluar dari kehendak Allāh, semuanya dengan kehendak Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian pula orang yang taat, terjadi dengan iradah kauniyyah Allāh Subhānahu wa Ta’āla ditambah nanti akan disebutkan, plus iradah syar'iyyah juga. Tergabung dua iradah ini pada diri seorang yang beriman. Secara kauniyyah dikehendaki oleh Allāh, secara syar'iyyah diinginkan oleh Allāh menjadi orang yang bertakwa (beriman).

⇒ Jadi iradah kauniyyah yang ingin kita sampaikan ini tidak melazimkan dia dicintai oleh Allāh. 

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan maksiat dan Allāh tidak cinta dengan kemaksiatan, dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan orang kafir dan Allāh tidak cinta dengan orang kafir.

Allāh menciptakan di sana ada orang yang zhalim dan Allāh tidak cinta dengan orang yang zhalim.

11:39-11:43

وهي التي بمعنى المشيئة 

Dan inilah yang semakna dengan al-masyi’ah.

Jadi di sana ada al-masyi'ah, di sana ada iradah kauniyyah (ini sama maknanya). Kalau digunakan di dalam Al-Qur'an “al-masyi'ah” maka yang dimaksud adalah iradah kauniyyah.

⇒ Nama lain (sinonim), sama antara al-masyi'ah dengan al-iradah al-kauniyyah 

12:07-12:14

كقوله تعالى: وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلُوا۟ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Contoh dari iradah kauniyyah (seperti) firman Allāh

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلُوا۟ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيد

karena iradah kauniyyah sama masyi'ah. 

Di sini beliau mengatakan, mendatangkan firman Allāh, 12:23 كقوله (seperti firman Allāh)

12:24-12:25

 وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ

seandainya Allāh menghendaki (niscaya mereka tidak saling berperang).

⇒ Maka al-masyi'ah di sini adalah nama lain dari iradah al-kauniyyah.

12:41-12:44

وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

"Akan tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla melakukan apa yang Dia kehendaki.”

Yaitu iradah kauniyyah, ini menunjukkan tentang iradah kauniyyah bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebagian mengatakan, Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mencintai adanya 13:00 ٱقْتَتَل (saling berperang satu dengan yang lain) tetapi kenapa di sini dikehendaki oleh Allāh?

Kehendak di sini adalah kehendak kauniyyah, bukan kehendak syar'iyyah. 

13:11-13:13

  وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقْتَتَلُو

Seandainya Allāh menghendaki niscaya mereka tidak akan saling berperang satu dengan yang lain.

Masyi'ah di sini adalah iradah kauniyyah dan iradah kauniyyah tidak harus sesuatu yang dicintai oleh Allāh Azza wa Jalla.

Beliau rahimahullah mengatakan:

13:33-13:38

وشرعية: لا يلزم بها و وقوع المراد

⑵ Iradah Syar'iyyah 

Iradah yang berkaitan dengan syari'at, maka iradah yang seperti ini tidak melazimkan (tidak mengharuskan) terjadi apa yang dikehendaki oleh Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan syari'at, Allāh menginginkan manusia beriman kepada rasul, bertauhid, melakukan ketaatan kepada Allāh. Itu yang ada dalam syari'at Allāh Subhānahu wa Ta’āla, itu yang Allāh inginkan.

Allāh turunkan Al-Qur'an, Allāh turunkan kitab-kitab sebelumnya, Allāh utus para rasul. Allāh ingin supaya manusia beriman, supaya manusia menjadi orang-orang yang taat, dengan demikian mereka mendapatkan keberuntungan di dunia dan juga di akhirat.

Apakah apa yang Allāh inginkan dengan menurunkan syari'at mengutus para rasul tadi terjadi? Jawabannya "tidak!" atau “tidak semuanya” terjadi.

14:38-14:41

فَمِنْهُم مَّنْ ءَامَنَ وَمِنْهُم مَّن كَفَرَ

"Ada di antara mereka yang beriman dan ada di antara mereka yang kafir.”

 [QS Al-Baqarah: 253]

Beriman sesuai dengan yang dikehendaki Allāh dan ada di antara mereka yang kafir, tidak beriman dengan rasul yang diutus kepada mereka, tidak beriman dengan Al-Qur'an, tidak beriman dengan hari akhir. Padahal Allāh Subhānahu wa Ta’āla menginginkan dengan syari'at tadi supaya mereka beriman. Menunjukkan bahwasanya iradah syar'iyyah ini tidak harus terjadi.

Maka kita harus bedakan antara iradah syar'iyyah dengan iradah kauniyyah. Kauniyyah pasti terjadi, adapun syar'iyyah belum tentu terjadi.

Kemudian syaikh menjelaskan:

15:23-15:28

ولا يكون المراد فيها إلا محبوباًله

"Dan tidaklah apa yang diinginkan oleh Allāh dengan iradah syar'iyyah ini kecuali sesuatu yang dicintai oleh Allāh.”

Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki iradah syar'iyyah dan tidaklah apa yang diinginkan oleh Allāh dengan iradah syar'iyyah ini kecuali sesuatu yang dicintai oleh Allāh. 

Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki iradah syar'iyyah; mencintai yang namanya shalat, puasa, ibadah, haji, berbuat baik kepada orang lain. Ini adalah sesuatu yang dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menginginkan manusia untuk melakukan amalan-amalan ini, maka iradah syar'iyyah tidaklah yang diinginkan oleh Allāh dengan iradah syar'iyyah ini kecuali sesuatu yang dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dan ini belum tentu terjadi.

16:20-16:21

كقوله تعالى: 

Seperti misalnya firman Allāh

16:25-16:29

 وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ

Contoh dari iradah syar'iyyah adalah apa yang Allāh sebutkan

16:34-16:36

 وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ

dan Allāh ingin untuk memberikan taubat kepada kalian

Apakah semua orang bertaubat? Jawabannya,"Tidak!"

Ada di antara manusia yang segera dia bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla setelah berdosa, setelah lalai dengan Allāh, lupa dengan Allāh, setelah menjauh dari Allāh. Tapi ada di antara manusia yang dalam keadaan dia terus melakukan dosa dan juga maksiat, padahal Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin memberikan ampunan kepada mereka. Menunjukkan bahwasanya iradah di sini adalah iradah syar'iyyah.

Yang disebutkan oleh syaikh di sini hanya sekedar contoh saja, sementara di sana banyak lagi dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki iradah syar'iyyah yang intinya adalah mahabbah yaitu kecintaan Allāh supaya makhluk itu melakukan apa yang diinginkan oleh Allāh.

17:38-17:40

وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ

"Dan Allāh menginginkan untuk memberikan taubat kepada kalian.”

Contoh yang lain dari ayat yang menunjukkan tentang iradah syar'iyyah adalah firman Allāh:

17:50-17:54

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ

"Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin memudahkan kalian dan tidak menginginkan untuk menyulitkan kalian.” [QS Al-Baqarah:185]

Beliau rahimahullah mengatakan, 

18:07-18:14

و نؤ من بأن مراده الكوني والشرعي تابع لحكمته  

Dan kita (Ahlus Sunnah) beriman bahwasanya apa yang dikehendaki oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, baik yang kauniyyah maupun yang syar’iyyah, baik iradah kauniyyah maupun iradah syar’iyyah, keduanya

18:32-18:35

تابع لحكمته

Ini mengikuti hikmah Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 

Jadi meskipun Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

18:42-18:43

 فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

"Allāh Maha melakukan apa yang Dia kehendaki”.

Adapun makhluk maka mereka tidak demikian, dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan syari'at sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, mensyariatkan sesuai dengan apa yang Dia kehendaki, namun kita beriman dan kita yakini bahwasanya apa yang Allāh kehendaki, baik yang kauniyyah maupun yang syar’iyyah itu, mengikuti hikmah Allāh. 

Di antara sifat Allāh adalah memiliki hikmah. Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,

19:17-19:18

 والله عَلِيم حَكِيم 

”Dan Allāh itu Maha Mengetahui dan Maha bijaksana.”

19:26-19:28

إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Sesungguhnya Allāh Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana" [QS Al Insan: 30]

Artinya hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tidak zhalim, tetapi menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jadi, meskipun Allāh Subhānahu wa Ta’āla Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki tapi apa yang Allāh kehendaki sesuai dengan hikmah.

Jadi ini berbeda dengan manusia. Kalau kita dikatakan kepada salah seorang diantara kita, "kerjakan apa yang engkau inginkan, mintalah apa yang engkau inginkan".

Ketika mendengar ucapan ini, maka terkadang sebagian dari kita atau bahkan sebagian besar dari kita, kemudian menyampaikan apa yang dia inginkan tetapi tanpa hikmah. Menyebutkan apa yang diinginkan tetapi tanpa hikmah. Itu keadaan kita.

Tapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla meskipun Allāh 20:27-20:28 فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيد tapi ini semua mengikuti hikmah Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Allāh Subhānahu wa Ta’āla apabila menciptakan sesuatu, menyesatkan fulan, memberikan hidayah kepada fulan, menghidupkan, mematikan, menggerakkan, mendiamkan maka itu semua dilakukan oleh Allāh dengan hikmah.

Demikian pula di dalam syariat, Allāh Subhānahu wa Ta’āla mensyariatkan shalat lima waktu, subuh dua rakaat, dhuhur empat rakaat, ashar empat rakaat, kenapa sujudnya dua kali, ruku'nya satu kali, itu semua adalah dengan hikmah. Jangan kita mengira Allāh Subhānahu wa Ta’āla mensyariatkan itu semua tanpa ada hikmah dan kosong dari tujuan. Pasti itu semuanya ada hikmah.

21:15-21:17

إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Allāh itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” [QS Al Insan: 30]

Semuanya ada hikmahnya, baik dalam hal yang berkaitan dengan iradah kauniyyah maupun dengan iradah syar’iyyah. Cuma apakah semua hikmah itu kita ketahui ?

Jawabannya tidak, karena akal kita terlalu pendek, akal kita terlalu kurang, untuk bisa memahami hikmah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tapi kita sebagai orang yang beriman, yakin seyakin-yakinnya bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah Maha Bijaksana di dalam seluruh perkaranya, iradah syar’iyyah maupun iradah kauniyyah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,

21:58-22:04

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

"Apakah kalian mengira bahwasanya kami menciptakan kalian عَبَثاً  dalam  keadaan sia-sia? Dan bahwasanya kalian tidak akan kembali kepada Kami?” [QS Al Mukminun: 115]

Menunjukkan bahwasanya, apa yang Allāh ciptakan di dunia ini semuanya dengan hikmah. Allāh tidak menciptakan sekecil apapun عَبَثاً (sia-sia), termasuk makhluk yang ada disekitar kita yang kita tidak melihatnya atau yang ada di dalam tubuh kita yang dia berjalan kita tidak mengetahui dan tidak merasakan jalannya dia. Itu Allāh ciptakan dengan hikmah, pasti! Tidak Allāh ciptakan begitu saja tanpa adanya hikmah.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan dalam ayat yang lain,

22:47-22:52

وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَٰعِبِينَ

"Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan juga bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam keadaan bermain-main.” [QS Anbiya: 16]

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan dengan kesungguhan dan dengan hikmah. Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan apa yang ada di antara langit dan bumi. Allāh ciptakan itu dengan hikmah. Awan yang berjalan, kenapa di hari ini berjalannya pelan, kenapa besok dia cepat, kenapa mendung berada di atas daerah A kenapa tidak di daerah B. Semuanya dengan hikmah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Inilah yang harus kita pahami.

Kalau kita bisa memahami yang demikian, maka ini In syaa Allāh, bi idznillah akan menjadikan kita semangat untuk taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan meninggalkan kemaksiatan. Seseorang melakukan ketaatan kepada Allāh, melakukan shalat, berpuasa, berzakat, berhaji dan yakin bahwasanya di balik itu semua ada hikmah yang dalam.

Demikian pula semangat untuk meninggalkan berbagai macam dosa dan juga kemaksiatan. Yakin bahwasanya Allāh ketika mengharamkan sesuatu pasti di situ ada kejelekan dan juga mudharat bagi manusia. Kenapa Allāh mengharamkan zina, kenapa Allāh mengharamkan riba, kenapa Allāh mengharamkan minuman keras, pasti di sana ada mudharat. 

Sehingga zaman sekarang banyak penemuan-penemuan, penelitian-penelitian yang mencengangkan dunia, padahal ini sudah dibahas dan sudah turun syariatnya kurang lebih seribu empat ratus tahun yang lalu. Sekarang mereka meneliti dan menemukan, bahwasanya diharamkannya sebuah perkara atau suatu perkara ini di dalamnya ada mafsadah, ada kerusakan demikian dan demikian. 

Zina misalnya, betapa banyak penyakit-penyakit kelamin yang ditimbulkan oleh zina, homosex. Kemudian juga riba, apa akibatnya bagi manusia, bagi masyarakat. Minum minuman keras juga demikian. Banyak orang yang justru menambah keresahan dia, kemudian membawa dia untuk melakukan kemaksiatan yang lain, karena dari minum minuman keras ini, kemudian akhirnya dia berzina, bahkan menghalalkan zina, nauzubillah min zalik, atau berzina dengan keluarganya, kemudian diiringi dengan pembunuhan dan seterusnya.

Maka ketahuilah, bahwasanya di dalam syari'at Allāh maupun apa yang Allāh takdirkan di alam semesta ini, pasti di sana ada hikmah yang dalam.

Beliau rahimahullah mengatakan, 

25:36-25:44

فكل ما قضاه كونا أو تعبد به خلقه شرعا فإنه لحكمة

Maka seluruh apa yang Allāh takdirkan di alam semesta ini atau apa yang digunakan oleh para makhluk untuk beribadah kepada Allāh, maka sesungguhnya semua itu ada hikmahnya. Baik syariat maupun di dalam apa yang Allāh takdirkan, pasti di sana ada hikmahnya.

26:05-26:15

وعلى وفق الحكمة سواء علمنا منها مانعلم أو تقاصرت عقو لنا عن ذلك: 

Dan sesuai dengan hikmah, itu adalah untuk hikmah tujuan tertentu dan dia sesuai dengan hikmah bukan sebuah kedzaliman. 

Syariat Allāh tidak ada di dalamnya kedzaliman. Dan apa yang Allāh lakukan di alam semesta ini, apa yang Allāh takdirkan tidak ada di dalamnya kedzaliman. Yang ada hanyalah keutamaan dari Allāh dan juga ada keadilan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 

Ada dua kemungkinan saja;

1. Keutamaan dari Allāh, karunia dari Allāh 

2. Keadilan, 

Adapun yang ketiga kedzaliman, maka ini tidak mungkin terjadi di dalam syariat Allāh dan tidak mungkin terjadi di alam semesta ini. Dalam ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,

27:03-27:06

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

"Sesungguhnya Allāh tidak akan mendzalimi meskipun hanya sebesar dzaroh.” [QS An Nisa: 40]

Yang dimaksud dengan dzaroh adalah semut yang kecil. Demikian pula Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,

27:19-27:22

وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعَـٰلَمِينَ

"Dan tidaklah Allāh menginginkan untuk mendzalimi manusia (untuk mendzalimi alam semesta).” [QS Ali-Imran: 108]

Dan di dalam hadits qudsi Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,

27:33-27:41

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا

"Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kedzaliman atas diriKu, dan Aku telah menjadikan kedzaliman tadi sesuatu yang diharamkan di antara kalian, Maka janganlah kalian saling mendzalimi satu dengan yang lain.” [HR Muslim: 6373]

Berarti di sini kita mengetahui Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah hakim yang Maha Bijaksana, baik di dalam yang Allāh takdirkan maupun yang Allāh syariatkan.

28:11-28:13

سواء علمنا منها ما نعلم أوتقاصرت عقو لنا عن ذلك:

Sama saja apakah hikmah tadi kita ketahui atau akal kita ini terlalu pendek untuk bisa memahami hikmah tadi. 

Jadi terkadang hikmah yang ada dalam syariat atau yang ada dalam apa yang Allāh takdirkan itu 28:35 معلوم (sesuatu yang kita ketahui dengan mudah), tapi pada kesempatan yang lain kita tidak mengetahuinya. Maka ini semua adalah karena akal kita yang lemah.

Jangankan memahami masalah hikmah. Ada perkara yang dia ada di dalam jasad kita dan sangat dekat dengan kita, tapi kita tidak mengetahuinya karena akal kita yang terlalu lemah. Nyawa atau ruh misalnya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,

29:06-29:13

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا [QS Al Isra': 85]

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh (tentang nyawa) yang ada di dalam diri manusia, yang kalau nyawa ini berpisah dari kita, maka kita akan meninggal dunia.

Sesuatu yang sangat dekat dengan kita, kita tidak mengetahui hakekatnya. Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Dialah saja yang mengetahui tentang hakekat dari ruh ini

29:34-29:39

قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan tidaklah kalian diberikan dari ilmu ini kecuali sangat sedikit saja.

Ini menunjukkan bagaimana lemahnya manusia, bagaimana 29:48 ضعف - nya mereka, lemahnya akal mereka. Kalau kita sudah mengetahui bahwasanya apa yang Allāh takdirkan, apa yang Allāh syariatkan ini di dalamnya ada hikmah, maka seseorang bersemangat untuk menjalankan ketaatan dan dia semangat untuk meninggalkan kemaksiatan.

Di samping itu, orang yang memahami  bahwasanya di setiap perkara pasti ada hikmahnya, ketika dia mendapatkan musibah misalnya, maka dia yakin bahwasanya di dalam musibah yang menimpa dia pasti ada hikmahnya. Kehilangan anak atau kehilangan harta, atau tabrakan misalnya, laqadarullah, atau musibah-musibah yang lain yang menimpa baik kehormatan seseorang, harta seseorang, maupun fisik seseorang.

Ketika seseorang kembali kepada dalil dan bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka Allāh Maha bijaksana maka akan timbul di dalam hatinya apa? Ketenangan. Yakin bahwa di balik musibah pasti ada hikmahnya

Ada sebuah kisah yang mungkin bermanfaat.

Seseorang yang dia sudah habis masa kontraknya, yaitu kontrak rumahnya. Padahal dia memiliki keluarga yang banyak. Akhirnya ia berusaha untuk mencari rumah kontrakan yang lain, berusaha dan kesulitan untuk mendapatkan rumah kontrakan yang sesuai dengan apa yang dia miliki, sesuai dengan kemampuan dia, sesuai dengan sifat yang dia inginkan.

Sampai Alhamdulillah Allāh Subhānahu wa Ta’āla memudahkan dia menemukan rumah yang dia inginkan, akhirnya terjadilah kesepakatan antara dia dan pemilik rumah tadi dan sudah hampir dia dan juga keluarganya mau menempati rumah tersebut. Tapi ternyata yang memiliki rumah tadi membatalkan perjanjian. 

Antum bisa bayangkan bagaimana perasaan seorang bapak tadi, seorang kepala rumah tangga yang dia bertanggung jawab dan dia sudah senang dan juga keluarganya, akan pindah ke rumah yang baru, setelah bersusah payah untuk mendapatkan rumah tadi, ternyata dibatalkan. Terpaksalah dia mencari rumah yang lain, yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan dia.

Beberapa hari setelah itu dia mendengar atau sampai kepadanya kabar bahwasanya rumah yang hampir saja mereka sewa tadi roboh. Barulah di situ dia memuji Allāh Subhānahu wa Ta’āla setelah sebelumnya mungkin ada di dalam hatinya sebuah perasaan, di dalamnya seakan akan tidak ridho dengan takdir Allāh Subhānahu wa Ta’āla, atau menunjukkan perasaan tidak sabar. 

Setelah itu dia baru bisa memahami, ternyata di dalam musibah tadi ada hikmahnya. Kenapa dia dibatalkan perjanjiannya, ternyata Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin menyelamatkan dia dan juga keluarganya dari musibah yang lebih besar. 

Demikian seorang yang beriman harusnya dia berpikir ketika dia mendapatkan musibah (musibah apa saja) dia yakin bahwasanya dibalik musibah itu pasti di sana ada hikmah.

Syaikh mendatangkan firman Allāh Azza wa Jalla,

33:08-33:10

أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَحْكَمِ ٱلْحَٰكِمِينَ

"Bukankah Allāh Dialah yang paling bijaksana.” [QS At-Tin: 8]

Masuk di dalamnya adalah bijaksana di dalam syariat dan bijaksana dalam masalah takdir. Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,

33:23-33:27

وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Dan siapakah yang lebih baik (hukumnya) daripada Allāh? Bagi orang-orang yang yakin.” [QS Al Maidah: 50]

Orang yang yakin, orang yang beriman, maka dia akan mengatakan bahwasanya hukum Allāh adalah hukum yang paling baik, karena hukum Allāh berdasarkan ilmu, berdasarkan kebijaksanaan, bukan berdasarkan hawa nafsu, bukan karena dipaksa oleh yang lain.

33:57-34:00

وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allāh? Bagi orang-orang yang yakin.”

Ini adalah apa yang disebutkan oleh syaikh tentang masalah sifat iradah bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 

Pembahasan Iradah ini juga akan dibahas ketika kita membahas tentang masalah beriman dengan takdir. Tentang masalah iradah juga akan dibahas nanti ketika kita membahas tentang rukun iman yang terakhir yaitu beriman dengan takdir Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 

Dibahas dalam iman kepada Allāh karena berkaitan dengan sifat iradah. Sifat iradah adalah di antara sifat sifat Allāh yang harus kita tetapkan bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 

Di akhir pertemuan ini kita akan memberikan kesimpulan dan juga ringkasan. 

1. Bahwasanya di antara sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah sifat iradah yaitu sifat berkehendak, sifat berkeinginan. Sesuai dengan keagungan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Tidak sama dengan iradah yang dimiliki oleh makhluk.

35:14-35:15

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

"Tidak ada yang serupa dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.” [QS Asy Syuura: 11]

2. Bahwasanya iradah Allāh terbagi menjadi dua:

     ▪ Pertama: Iradah Kauniyyah,

     ▪ Kedua: Iradah Syar'iyyah.

Apa perbedaan keduanya? 

  •  Iradah Kauniyyah pasti terjadi dan dia tidak harus sesuatu yang dicintai oleh Allāh. 

  •  Adapun iradah Syar'iyyah tidak pasti terjadi, dan dia adalah sesuatu yang pasti dicintai oleh Allāh. Allāh Subhānahu wa Ta’āla mencintai keimanan manusia, maka ini adalah iradah Syar’iyyah. Tapi iradah ini belum tentu terjadi. Banyak di antara mereka yang tidak beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

3. Bahwasanya di dalam sesuatu yang diinginkan oleh Allāh, baik dengan Iradah Kauniyyah maupun Iradah Syar'iyyah pasti di situ mengikuti hikmah Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Tidak mungkin keluar dari hikmah Allāh baik dari segi syari'atnya maupun di dalam apa yang Allāh takdirkan.

4. Tidak semua hikmah tadi diketahui oleh manusia. Ada di antara hikmah yang diketahui oleh manusia dan ada di antaranya tidak diketahui oleh manusia, dan kewajiban kita adalah beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla melakukan apa yang dikehendaki dan apa yang dikehendaki oleh Allāh pasti di sana ada hikmahnya.

Akhirnya kita sampai pada akhir dari pertemuan kali ini. Kita berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepada kita semuanya dan menjaga hati kita, menetapkan kita di atas agama Islam sampai kita bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

واخردعوانا أن الحمد لله رب العالمين

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركات

•┈┈┈•◈◉◉◈•┈┈┈•


ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA TURUN KE LANGIT DUNIA DAN ALLAH DATANG PADA HARI KIAMAT

 HALAQAH 12 : 

بسم اللّه الرحمن الرحيم

ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA TURUN KE LANGIT DUNIA DAN ALLAH DATANG PADA HARI KIAMAT

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وَصحبِهِ  ومن وَالَاه،

Para Santri HSI Akademi dimanapun antum berada waffaqakumullah jami’an,

Kita lanjutkan pembahasan Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ditulis oleh fadhilatul Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ta'ala.

Masih kita pada pasal beriman kepada Allah. 

Beliau rahimahullah mengatakan:

00:15

ونؤمن بما أخبر به عنه رسو له ﷺ أنه ينزل كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الأخير

"Dan kami (Ahlus Sunnah wal Jama'ah) beriman (percaya, meyakini, tidak ragu-ragu) dengan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ"

Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam sebagai seorang Rasul datang dan di antara yang Beliau bawa adalah kabar-kabar (berita-berita) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kita sebagai seorang Ahlus Sunnah yang mengaku bersyahadah (bersaksi) bahwasanya Beliau adalah seorang Rasulullah harus meyakini dan percaya dengan setiap apa yang Beliau kabarkan.

Terkadang Beliau mengabarkan tentang berita-berita yang sudah berlalu, kisah-kisah yang telah berlalu, yang sudah ratusan tahun atau ribuan tahun yang lalu, maka kita membenarkan Beliau نؤمن به kita beriman dengan apa yang Beliau sampaikan.

Terkadang Beliau mengabarkan tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, manusia pada asalnya tidak mengetahui yang demikian. Ini adalah kekhususan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Tapi Allah Subhanahu wa Ta'ala terkadang memberi tahu sebagian dari perkara yang akan terjadi di masa yang akan datang ini kepada para nabi. Termasuk di antaranya yang Beliau kabarkan adalah tentang sifat-sifat Allah. 

Maka apabila Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam mengabarkan tentang sebagian sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala maka kita harus membenarkan dan wajib bagi kita untuk membenarkan.

Karena Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam adalah: 

02:09

 أعلم الناس بالله ﷻ

⑴ Beliau adalah manusia yang paling mengenal Allah Azza wa Jalla, tidak ada diantara manusia yang lebih mengenal Allah daripada Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam.

02:24

اصدق الناس 

⑵ Beliau adalah manusia yang paling jujur, tidak pernah Beliau berdusta meskipun hanya sekali. 

Oleh karena itu orang-orang Quraisy ketika Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam di awal dakwahnya mengatakan kepada mereka, "Bagaimana pendapat kalian seandainya aku mengabarkan kepada kalian bahwasanya ada pasukan yang akan menyerang kalian?". Dan Beliau berada di atas bukit Shafa saat itu.

Seandainya di balik bukit ini ada pasukan yang akan menyerang kalian, 

02:57

أكنتم مصدقي  “Apakah kalian akan membenarkan diriku?” 

Maka orang-orang Quraisy yang mereka sangat mengenal sekali Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam, mengenal sekali Muhammad Ibnu Abdillah Ibnu Abdil Muthalib. Mereka mengatakan dan tidak ada di antara mereka menyelisihi.

03:17

مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَم كذباً

"Kami tidak pernah melihat engkau berdusta.”

Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam dikenal sebagai seorang yang al-amin (orang yang shadiq) اصدق الناس adalah Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam.

⑶ Beliau adalah orang yang paling fasih, orang yang bisa mengungkapkan sesuatu sesuai dengan hakikatnya adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam.

⑷ Beliau adalah orang yang paling anshah, orang yang paling menginginkan kebaikan bagi manusia. Hatinya lembut (bersih) tidak menginginkan kejelekan bagi manusia. 

Orang yang sangat menginginkan kebaikan bagi manusia, bagi orang yang melihat sirah Beliau, membaca perjalanan hidup Beliau maka akan mengetahui yang demikian. 

Sehingga terkumpul di dalam ucapan Beliau tiga sifat ini atau di dalam diri Beliau tiga sifat ini.

1. Beliau adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah dan 

2. Beliau adalah orang yang paling jujur, tidak dusta di dalam ucapannya dan ucapan Beliau adalah ucapan yang paling jelas yang paling mengungkapkan kenyataan dan 

3. Beliau adalah orang yang paling anshah orang yang paling menasehati manusia, orang yang paling bersih hatinya.

Maka tidak ada حيلة (alasan) bagi seseorang untuk menolak kabar dari Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam. Kalau kabar tersebut datang dari orang yang bodoh meskipun dia jujur, tidak kita terima. Kita tidak meragukan kejujurannya tetapi karena dia adalah orang yang jahil dikhawatirkan dia salah berbicara. Maka tidak bisa kita terima kabarnya begitu saja.

Seandainya dia mengetahui tetapi dia tidak jujur, juga demikian. Pintar tetapi dia bohong. Dikenal kebohongannya maka tidak bisa kita membenarkan ucapannya.

Dia pintar dan dia adalah orang yang jujur tetapi ternyata dia tidak bisa berbicara, tidak bisa fasih di dalam mengungkapkan sebuah perkara, sehingga terkadang salah-salah dalam mengungkapkan. Dia ingin mengungkapkan A (misalnya) tetapi bicaranya B, ini juga kita tidak bisa membenarkan ucapannya meskipun dia adalah orang yang pandai, meskipun dia adalah orang yang jujur tetapi yang kita khawatirkan dia salah dalam berbicara.

Ini semua di dalam diri Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam sempurna.

Makanya seorang muslim membenarkan apa yang Beliau kabarkan. Termasuk di antaranya adalah tentang sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di antara yang Beliau kabarkan kepada kita:

06:02

أنه ينزل كل ليلة إلى السماء الدنيا

"Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala turun setiap malam ke langit dunia.”

06:12

حين يبقى ثلث الليل الأخير  

"Ketika sudah tersisa sepertiga malam yang terakhir.”

Ini di antara sifat yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam di dalam hadits yang shahih. Turun sesuai dengan keagungan-Nya.

• Pertama kita harus tetapkan sebagaimana sifat ini datang dari Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, maka harus kita tetapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala turun.

• Kedua harus kita yakini bahwasanya turunnya Allah Subhanahu wa Ta'ala ini sesuai dengan keagungan-Nya. Tidak sama dengan turunnya makhluk يليق بالله عز وجل .

Turunnya di sini sesuai dengan keagungan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak sama dengan turunnya makhluk.

Kita kembali ke kaidah: 

07:00

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ

"Tidak ada yang serupa dengan Allah.” 

Ini adalah kaidah umum.

Makanya yang terpatri dalam diri seorang yang beriman, datang kabar dari Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam tentang sifat Allah dia paham bahwasanya sesuai dengan keagungan Allah. Tidak sama dengan turunnya makhluk sehingga jangan dibayangkan turunnya Allah sama dengan turunnya makhluk. 

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌۖ  "Tidak ada yang serupa dengan Allāh.” 

Tidak bisa kita bayangkan, tidak boleh kita takyif, kita bagaimanakan. Oleh karena itu kalau kita sudah tahu bahwasanya ini sesuai dengan keagungan Allāh, tidak perlu di sana ada pertanyaan.

Misalnya: "Apakah ketika Allah turun Arsy ini menjadi kosong atau tidak kosong?" 

Atau seperti yang diucapkan oleh sebagian. "Kalau Allah turun pada sepertiga malam yang terakhir berarti Allah turun terus.” 

Karena kalau di sini sudah berlalu sepertiga malam yang terakhir nanti daerah yang lain sepertiga malam juga, daerah yang selanjutnya juga demikian.

Sehingga sebagian ada yang menolak turunnya Allah dengan argumen-argumen aqliyyah seperti ini. Ini dibangun karena sebelumnya sudah ada tasybih, membayangkan bahwasanya turunnya Allah sama dengan turunnya makhluk. Kita katakan, "Tidak!"

Allah Subhanahu wa Ta'ala turun sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, tapi turunnya Allah sesuai dengan keagungan-Nya.

Apa yang tadi dipertanyakan. "Apakah Arsy kosong atau tidak kosong" berarti nanti Allah Subhanahu wa Ta'ala terus turun karena sepertiga malam yang terakhir ini berpindah-pindah.

Ini tidak perlu lagi dipertanyakan karena itu adalah turunnya makhluk. Yang ada di dalam hadits ini adalah turunnya Allah Subhanahu wa Ta'ala yaitu sesuai dengan keagungannya sehingga tidak masalah bagi Ahlus Sunnah.

Mereka menerima kabar dari Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam dan mengatakan "Sami'na Wa Atho'na" (kami mendengar dan kami taat).

Selama hadits ini adalah shahih dan hadits ini adalah shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. 

Tidak ada keraguan di dalam diri seorang muslim bahwasanya ini adalah benar dan Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam,

09:20

 وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ۞  إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ

"Tidak berbicara dari hawa nafsunya, tidaklah apa yang Beliau ucapkan kecuali wahyu yang diwahyukan kepada Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam.” [QS An-Najm: 3-4]

Beliau rahimahullah mengatakan,

09:38

كل ليلة إلى السماء الدنيا  "Setiap malam ke langit dunia ini.”

Yang dimaksud dengan langit dunia adalah langit yang paling dekat, karena langit ada tujuh dan langit yang paling dekat dengan kita dinamakan dengan السماء الدنيا, ”langit yang paling dekat”.

Kemudian ucapan Beliau, كل ليلة, ”setiap malam”.

Yang dimaksud malam, ini pendapat yang kuat atau yang lebih kuat yang namanya malam ini dimulai dari waktu maghrib, diakhiri dengan terbitnya fajar, inilah yang dimaksud dengan malam.

10:12

حين يبقى ثلث الليل الأ خير "Ketika masih tersisa sepertiga malam yang terakhir.”

Kalau kita ingin mengetahui sepertiga malam yang terakhir, berarti dihitung dulu dari maghrib sampai subuh. Maghribnya jam berapa, subuhnya jam berapa. Kemudian kita hitung berapa jam.

Kalau totalnya adalah misalnya sembilan jam berarti dibagi tiga, tiga jam, tiga jam, tiga jam. Tiga jam yang terakhir sampai subuh itulah sepertiga malam yang terakhir. Di situlah Allah Subhanahu wa Ta'ala turun ke langit dunia sesuai dengan keagungan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kemudian,

10:52

فيقول :  

Allah mengatakan,

10:54

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ 

"Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, siapa yang memohon ampun kepada-Ku sehingga Aku akan mengampuni dosanya.”

Allah akan mengucapkan ucapan ini ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala turun di sepertiga malam yang terakhir dan ini menunjukkan tentang bahwasanya sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang mustajab.

Sehingga disunnahkan dan dianjurkan sekali kita bangun di waktu tersebut, ketika manusia dalam keadaan lelap dengan tidurnya, seseorang berwudhu meninggalkan kenikmatan sesaatnya, berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bermunajat, berdo'a, mengadukan seluruh permasalahannya kepada Allah, permasalahan yang berkaitan dengan dunia dan juga meminta kepada Allah kebaikan akhirat, menangis di hadapan Allah, memohon ampun, maka ini adalah sebuah keutamaan. Di saat itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala turun dan Allah akan mengucapkan ucapan-Nya. 

"Siapa yang meminta kepada-Ku atau berdo'a kepada-Ku kemudian Aku akan mengabulkan do'anya"

Karena itu saudara dan juga saudari sekalian, siapa di antara kita yang tidak memiliki hajat, masing-masing kita punya keinginan, bahkan seandainya seorang di antara kita disuruh menulis keinginannya di sebuah buku tulis misalnya, niscaya di sana akan ada berlembar-lembar halaman yang isinya adalah keinginan kita, angan-angan kita. 

Maka ini kesempatan bagi kita untuk mendapatkan doa yang mustajab. Allah yang menjanjikan. Tinggal kita mau bangun, mengangkat kedua tangan kita meminta kepada Allah. Bagi orang yang kesulitan masalah rezeki, bagi orang yang masih belum mendapatkan jodoh, bagi orang yang sakit, bagi orang yang kesulitan dalam mendidik anak-anaknya, dan seluruh permasalahan yang dia miliki, bangun di sepertiga malam yang terakhir, shalat untuk Allah Subhanahu wa Taala, berdoa kepada Allah, janji dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

13:26

مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ

"Siapa yang meminta kepada-Ku kemudian Aku akan memberikan kepadanya.”

Ada yang mengatakan perbedaan antara berdoa dengan meminta, kalau berdoa itu mengatakan misalnya,

13:40

 اللهم ارزقني 

"Ya Allah, berikanlah aku rezeki.”

Tapi kalau meminta mengatakan,

13:48

اَللّٰهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ

"Ya Allah aku meminta kepada-Mu.”

Ada yang mengatakan demikian,

13:55

مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ

"Siapa yang meminta kepada-Ku kemudian Aku akan memberikan kepadanya.”

Maka bangun, mintalah kepada Allah kebaikan dunia dan juga kebaikan akhirat. Meminta kepada Allah surga,

14:10

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

"Ya Allah aku meminta kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka.”

Meminta kebaikan dunia dan juga akhirat. 

Kemudian Allah mengatakan,

14:23

مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

"Siapa yang memohon ampun kepada-Ku kemudian Aku pun akan mengampuni dosanya.”

Dan siapa di antara kita yang tidak memiliki dosa. Dosa-dosa kita terlalu banyak. Dosa yang berkaitan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam melaksanakan kewajiban, di sana ada banyak larangan yang kita langgar ataupun dosa yang berkaitan dengan orang lain, kepada orang tua, kepada keluarga, kepada istri, kepada anak. 

Maka ini saatnya waktu yang tepat untuk memohon ampun kepada Allah. Tentunya kalau dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain, sebagaimana yang kita ketahui harus kita mengembalikan hak tersebut. Kalau kita memang pernah menyakiti kehormatannya maka kita harus meminta maaf, minta untuk dihalalkan. Kalau itu berupa harta benda maka kita harus kembalikan dan seterusnya.

15:17

مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

"Siapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku pun akan mengampuni dosanya.”

Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ta'ala anhu.

Ada sebagian saudara kita  هَدَاهُم الله semoga Allah subhanahu wa Ta'ala memberikan petunjuk kepada mereka dan kita semuanya tentunya, yang mereka menolak sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala ‘nuzul’ (turun), mereka mengatakan, "Kalau Allah turun berarti Allah Subhanahu wa Ta'ala di bawah"

Kemudian akhirnya mereka mentakwil, dan mengatakan, “Yang turun disini adalah malaikat, atau yang turun di sini adalah perintah Allah”.

Kita katakan bahwasanya hadits yang ada ini atau yang datang kepada kita ini disebutkan di situ yang turun adalah Allah,

16:12

يَنْزِلُ رَبُّنَا  "Rabb kita turun.”

Jelas bahwasanya yang turun di sini adalah Allah, yang disifati di sini adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bagaimana seseorang mengatakan yang turun adalah malaikat-Nya atau perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kemudian yang kedua, di sini disebutkan ucapan 

16:33

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ

"Siapa yang berdoa kepada-Ku"

16:38

مَنْ يَسْأَلُنِي 

"Siapa yang meminta kepada-Ku.”

16:41

مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي 

 "Siapa yang memohon ampun kepada-Ku.”

Yang mengucapkan ucapan ini yang berhak hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Apakah malaikat berhak untuk mengucapkan ucapan ini?

16:51

مَنْ يَدْعُونِي

Tidak boleh. Doa adalah ibadah, istighfar juga demikian. Apakah perintah Allah mengucapkan ucapan ini ? Tidak. Menunjukkan bahwasanya yang mengucapkan ucapan ini, yang turun adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena ucapan ini tidak mungkin mengucapkan ucapan ini kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sehingga yang mentakwil nuzul di sini sebagai turunnya malaikat atau perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala maka ini tidak benar dan bertentangan dengan dalil dan juga kaidah dan tidak perlu seseorang untuk lari dari tasybih kemudian dia mentakwil. Sebagaimana yang sering kita ulang-ulang cukup kita meyakini Allah Subhanahu wa Ta'ala turun sesuai dengan keagungan-Nya tidak sama dengan turunnya makhluk.

Dengan demikian kita,

• Pertama kita menetapkan sifat tersebut. Ini adalah bagian dari keimanan kita kepada Allah, kemudian yang, 

• Kedua adalah kita mengatakan sesuai dengan keagungan Allah, berarti kita sudah tidak mentasybih Allah, kita tidak menyerupakan Allah dengan makhluk.

Beliau rahimahullah mengatakan: 

18:05

 ونؤمن بأنه سبحانه و تعالى يأتي يوم المعاد للفصل بين العباد لقوله تعالى: 

كَلَّآۖ إِذَا دُكَّتِ ٱلۡأَرۡضُ دَكّٗا دَكّٗا ۞ وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلۡمَلَكُ صَفّٗا صَفّٗا ۞ وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِ بِجَهَنَّمَۚ يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَى ۞ [QS Al-Fajr: 21-23]ٰ

Dan kami (Ahlus Sunnah) beriman (percaya, meyakini) bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala datang pada hari ketika manusia dikembalikan yaitu yaumul qiyamah.

Ketika manusia dikumpulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di padang Mahsyar seluruhnya dari yang awal sampai yang akhir (dari Nabi Adam alayhissalam sampai manusia yang terakhir). 

Jin juga demikian dikumpulkan oleh Allah. Tidak ada di antara mereka yang ketinggalan seorangpun, bahkan hewan-hewan (binatang-binatang) juga dikumpulkan oleh Allah.  Demikian pula para malaikat dikumpulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala semuanya.

Oleh karena itu, ini adalah perkumpulan yang akbar (perkumpulan yang paling besar), semuanya kumpul jadi satu (manusia, jin, malaikat, hewan-hewan) semuanya yang kita tidak mengetahui jumlahnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kumpul semuanya. 

Kemudian datang Allah Subhanahu wa Ta'ala مالك المك - Dialah yang merajai seluruhnya, yang telah menciptakan mereka semuanya, yang telah memberikan mereka kehidupan. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala akan datang di hari tersebut untuk memberikan keputusan di antara manusia yaitu untuk menghisab mereka. Ini keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Jadi dunia bukan terakhir, kehidupan di alam kubur bukan peristirahatan yang terakhir, di sana ada yaumul ma'ad, di sana ada hari dimana manusia akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Ini keyakinan kita dan in syaa Allah nanti akan datang pembahasan tentang masalah beriman dengan hari akhir secara terperinci. In syaa Allah akan kita bahas ketika syaikh menyebutkan tentang beriman dengan hari akhir yang merupakan rukun iman yang ke-6.

Di sini yang akan kita bahas tentang masalah sifat datang bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah akan datang pada hari tersebut. Ini berdasarkan ayat dan juga berdasarkan hadits di antaranya adalah yang disebutkan oleh pengarang di sini.

20:48

لقوله تعالى: كَلَّآۖ إِذَا دُكَّتِ ٱلۡأَرۡضُ دَكّٗا دَكّٗا 

"Sekali-kali tidak (kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla), apabila bumi digoncangkan dengan segoncang-goncangnya.” [QS Al-Fajr: 21] 

Bumi yang kita tempati ini akan digoncangkan (digetarkan) gempa dengan getar yang segetar-getarnya (segoncang-goncangnya), sehingga tidak ada di sana gunung, tidak ada di sana lembah, tidak ada di sana batu, menjadi rata dan ini adalah pendapat sebagian ulama.

Mengatakan bahwasanya, "Tempat dikumpulkannya manusia di hari tersebut adalah bumi ini hanya saja berbeda sifatnya". 

Para ulama berselisih pendapat tentang firman Allah:

21:31

يَوْمَ تُبَدَّلُ ٱلْأَرْضُ غَيْرَ ٱلْأَرْضِ وَٱلسَّمَـٰوَٰتُ

"Pada hari dimana akan diganti bumi selain bumi ini.” [QS Ibrahim: 48]

Ada yang mengatakan akan didatangkan bumi yang lain dan ada yang mengatakan buminya sama akan tetapi berbeda sifatnya. Sebelumnya (mungkin) ada pohon, ada gunung, ada lembah, ada berbagai makhluk, bangunan, benda dan seterusnya maka di hari tersebut akan hilang. Yang ada adalah tempat yang rata tidak ada gunung, tidak ada lembah, tidak ada tanda bagi manusia.

Kemudian Allah mengatakan:

22:10

وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلۡمَلَكُ صَفّٗا صَفّٗا

"Dan akan datang Rabb-Mu”,  

Di sini syahidnya وَجَآءَ رَبُّكَ “Akan datang Rabb-Mu.”

Maka harus kita yakini, kita beriman bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan datang pada hari tersebut. Sesuai dengan keagungan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tidak sama dengan datangnya kita sebagai seorang makhluk.

Kembali kita kepada kaidah yang disebutkan di dalam ayat

22:42

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْء 

"Tidak ada yang serupa dengan Allah.”

Kita tetapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan datang di hari tersebut.

22:48

وَٱلۡمَلَكُ صَفّٗا صَفّٗا  

“Dan para malaikat juga akan bershaf-shaf.” [QS Al-Fajr: 22]

Allah Subhanahu wa Ta'ala datang, malaikat juga didatangkan oleh Allah dan mereka bershaf-shaf (berbaris). Ada yang mengatakan bahwasanya mereka (malaikat) akan mengitari manusia dan juga jin yang dikumpulkan (mengelilingi) mereka.

Shaf yang pertama adalah malaikat yang tinggal di langit yang pertama. Kemudian shaf kedua, dan ini lebih banyak lagi malaikatnya, karena langit yang kedua lebih besar daripada langit yang pertama, mereka bershaf yang kedua. Shaf ketiga adalah malaikat yang tinggal di langit yang ketiga. Dan seterusnya, sehingga di sana ada 7 shaf.

Mereka mengitari manusia dan juga jin yang dikumpulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala pada hari tersebut.

23:42

وَجِاْيٓءَ يَوۡمَئِذِۭ بِجَهَنَّم 

"Pada hari tersebut akan didatangkan Jahannam.”

Manusia di padang mahsyar dan mereka dalam keadaan takut, dalam keadaan mereka menunggu hari keputusan dan masing-masing mereka mengingat apa yang sudah mereka kerjakan di dunia. Di antara yang menambah takut mereka adalah didatangkan Jahannam saat itu.

Di dalam sebuah hadits Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mengatakan:

24:11

يؤتى بجهنم يومئذ لها سبعون ألف زمام مع كل زمام سبعون ألف ملك يجرونها

"Akan didatangkan pada hari tersebut dengan Jahannam dan dia memiliki 70 ribu tali kekang (tali yang digunakan untuk menyeret Jahannam).”

Jahannam saat itu memiliki 70 ribu tali kekang dan ini adalah jumlah yang banyak. Kemudian Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam mengatakan: "Bahwasanya setiap tali kekang yang jumlahnya 70 ribu dipegang oleh 70 ribu malaikat"

Berarti 70 ribu malaikat memegang satu tali kekang saja dan jumlah tali kekang Jahannam saat itu adalah 70 ribu tali kekang. Maka ini adalah jumlah yang sangat banyak sekali, kurang lebih 4,9 milyar.

Mereka adalah jumlah malaikat yang sangat banyak dan ini menunjukkan kepada kita tentang;

⑴ Banyaknya malaikat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

⑵ Besarnya Jahannam dan beratnya Jahannam, sehingga harus diseret oleh malaikat sebanyak itu.

Padahal malaikat adalah makhluk Allah yang kuat tapi ternyata Jahannam diseret dan ini menunjukkan tentang beratnya Jahannam tadi oleh 4,9 milyar malaikat.

Maka manusia saat itu mereka melihat Jahannam tadi dan ini tentunya semakin menambah ketakutan mereka.

25:48

يَوۡمَئِذٖ يَتَذَكَّرُ ٱلۡإِنسَٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ

Pada hari tersebut manusia akan mengingat, ingat tentang apa yang dia lakukan di dunia.

Tentang kekurangan yang dia lakukan di dunia di dalam mentaati Allah dan juga Rasul-Nya. Pada hari tersebut mereka ingat.

26:08

وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ 

Lalu apa faedahnya mengingat pada hari tersebut?

Kalau ingat (misalnya) di hari tersebut, "Yaa Allah, kenapa dahulu di dunia tidak demikian dan demikian”. "Kenapa dahulu tidak mentaati suami”. "Kenapa dahulu di dunia tidak berbakti kepada kedua orang tua”. "Kenapa dahulu di dunia tidak shalat"

Thayyib. Apakah ada manfaatnya pada hari tersebut? Tidak ! Waktu sudah berlalu (sudah habis), kita sudah diberikan kesempatan di dunia.

26:38

وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ

Tidak ada faedahnya saat itu mengingat kembali apa yang sudah terjadi di dunia. Ini menunjukkan bahwasanya yang bermanfaat adalah sekarang ini. Kalau kita ingat sekarang ini, maka ini akan bermanfaat

Ingat tentang dosa kita, kemudian kita beristighfar memperbaiki amal shalih mendekatkan diri kepada Allah, ini yang bermanfaat. Bertaubat, beristighfar, tapi kalau sudah di akhirat kemudian seseorang mengingat apa yang dia lakukan di dunia maka ini sudah tidak ada manfaatnya.

27:16

وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ

Bagaimana akan bermanfaat bagi dia mengingat pada hari tersebut.

Beliau rahimahullah menyebutkan tentang satu dalil yang menunjukan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan datang di hari kiamat sesuai dengan keagungan-Nya. Di sana ada dalil-dalil lain, yang juga menunjukan tentang sifat ini. 

Saya sebutkan di antaranya adalah apa yang Allah katakan di dalam surat Al-An'am ayat 158 Allah mengatakan,

27:49

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ  يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ

Yang artinya, "Mereka tidaklah menunggu kecuali kedatangan malaikat atau kedatangan Rabb-mu."

Yaitu orang-orang kafir yang mereka tidak beriman kepada Allah, tidak beriman kepada hari akhir, mendustakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Tidaklah mereka menunggu kecuali kedatangan malaikat yaitu nanti ketika mereka meninggal dunia. Atau kedatangan Allah Subhanahu wa Ta'ala,  

28:31

أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ

"Atau kedatangan Allah"

Yang dimaksud kedatangan Allah di sini adalah di hari kiamat yaitu untuk memutuskan di antara manusia.

28:42

أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ

"Atau mereka menunggu kedatangan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah."

Dan yang dimaksud adalah terbitnya matahari dari arah Barat. Syahid ayat ini adalah firman Allah,

أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ

"Atau kedatangan Rabb-mu"

Ini maksudnya adalah di padang mahsyar kedatangan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk memberikan keputusan di antara manusia.

Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam surat Al-Baqarah  ayat 210, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan,

29:18

هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن يَأْتِيَهُمُ ٱللَّهُ فِى ظُلَلٍ مِّنَ ٱلْغَمَامِ وَٱلْمَلَٰئِكَةُ وَقُضِىَ ٱلْأَمْرُ

"Tidaklah mereka menunggu kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala akan datang kepada mereka di antara awan”,

29:34

هوَٱلْمَلَٰئِكَةُ 

"Demikian pula para malaikat"

29:37

وَقُضِىَ ٱلْأَمْرُ

"Dan akan diputuskan seluruh perkara"

Ini juga semakna dengan dua ayat yang kita sebutkan, menunjukkan tentang kedatangan Allah Subhanahu wa Ta'ala di hari kiamat dan in syaa Allah perincian tentang masalah apa yang terjadi di padang mahsyar in syaa Allah kita akan perjelas ketika syaikh membahas tentang beriman dengan hari akhir.

Dan apa yang sudah disebutkan in syaa Allah sudah cukup karena maksud dari apa yang disampaikan oleh syaikh di paragraf ini. Maksudnya adalah masalah tentang keimanan kita dan kewajiban kita untuk beriman bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan datang di hari kiamat.

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini dan in syaa Allah kita bertemu kembali pada pertemuan yang selanjutnya pada waktu dan keadaan yang lebih baik . 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 



•┈┈┈••••○○○••••┈┈┈•


Sabtu, 26 November 2022

Muroja'ah Kitab Tsalatsatul Ushul

 Mari berlatih ! Bacalah soal-soal berikut dan jawablah dengan melihat catatan (sesuai isi pelajaran dalam audio rekaman). Kemudian tutuplah buku, dan jawablah soal-soal tersebut dari ingatan anda ! Selamat beribadah thalabul ilmi !

1. Sebutkan 4 perkara yg merupakan jalan keselamatan dan dalilnya !

2. Sebutkan "dengan ringkas" 3 perkara yg wajib diketahui dan diamalkan !

3. Apa itu hanifiyyah?

4. Apa itu tauhid? Sebutkan 2 perkara yg tidaklah terwujud tauhid kecuali dengannya! Apa itu syirik?

5. Sebutkan 3 pondasi dasar islam yg wajib diketahui, dan dalilnya apa?

6. Apa itu Rabb? Siapa Rabb anda? Apa dalilnya?

7. Bagaimana cara mengenal Allah?

8. Apa itu ibadah?

9. Apa hukum orang yg beribadah kepada selain Allah?

10. Sebutkan dengan ringkas, bagaimana hukumnya orang yg beribadah kepada selain Allah karena dia tidak tahu?

11. Sebutkan rincian meminta kepada selain Allah !

12. Sebutkan rincian takut kpd selain Allah !

13. Sebutkan hakikat agama islam dalam 3 poin !

14. "Tunduk kepada Allah dengan ketaatan" tidak akan terwujud kecuali dengan 2 perkara, sebutkan !

15. Sebutkan 3 tingkatan dalam agama islam.

Selasa, 13 September 2022

Mitslain Mutaqaribain dan Mutajanisain #3

Mitslain Mutaqaribain dan Mutajanisain #3




الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
 
Para Pendengar Belajar Islam, sahabat Al Qur’an yang semoga Allah subhanahu wa ta'ala muliakan, Alhamdulillah pada pertemuan kemarin kita telah mengenal dan mempelajari tentang bab mutaqaribain. Adapun pada kesempatan kali ini biidznillahi ta’ala kita akan menuntaskan sesisa pelajaran kita, yaitu mutajanisain.
 
Penulis rahimahullah berkata:
 
أَوْ يَكــُونَا اتَّفَقَـــا فِي مَخْرَجٍ دُونَ الصَّفَــاتِ حُقِّقَا
 
“Dan apabila dua huruf bertemu, sama makhraj tetapi berbeda sifatnya.”
 
بالمُتَجَانِسَيْــنِ 
 
“Maka dinamakan mutajanisain."
 
Penjelasan:
 
Idgham mutajanisain adalah:
 
هُمَا الْحَرْفَانِ اللَّذَانِ اتَّفَقَا مَخْرَجًا وَ اخْتَلَفَا صِفَةً
 
“Dua huruf yang sama makhrajnya namun berbeda sifatnya.”1    
 
Diantara huruf-huruf yang sama makhrajnya namun berbeda sifatnya yang terdapat pada idgham mutajanisain, terbagi kedalam 3 makhraj, yaitu:
 
1. Ta (ت), Dal (د), & Tha (ط)
2. Tsa (ث), Dzal  (ذ), & Dzha (ظ)
3. Ba (ب) & Mim (م)
 
Makhraj Pertama
 
Huruf ta, dal dan tha keluar dari makhraj yang sama, yaitu punggung ujung lidah bertemu dengan pangkal gigi seri atas, akan tetapi sifat ketiganya berbeda. Berikut perbedaan sifat ketiga huruf tersebut:
 
ت   Hams, Syiddah, Istifal, Infitah
د   Jahr, Syiddah, Istifal, Infitah, qalqalah
ط   Jahr, Syiddah, Isti’la, Ithbaq, qalqalah

Untuk makhraj Ta (ت), Dal (د), & Tha (ط) idghamnya pada 4 hal. Yaitu:

1. Idgham ta (ت) pada dal (د)
 
        2أَثْقَلَت دَّعَوَا اللهَ     قَالَ قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا3
 
Untuk idgham ta ke dal hanya ada pada 2 contoh diatas4 
 
2. Idgham ta (ت) pada tha (ط)
 
5إِذْهَمَّت طَّآئِفَتَانِ     6وَدَّت طَّآئِفَةٌ   

3. Idgham dal (د) pada ta (ت)
 
    7وَمَهَّدتُّ     8قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ
 
4. Idgham  tha (ط) pada ta (ت)
 
         9أَحَطتُ         10لَئِن بَسَطتَ إِلَىَّ يَدَكَ
 
Catatan:  Untuk contoh no 1,2 & 3 idghamnya kamil (sempurna) adapun no 4 idghamnya naqis (tidak sempurna).
 
Makhraj Kedua
 
Huruf tsa, dzal, dan dzha keluar dari makhraj yang sama, yaitu ujung lidah bertemu dengan ujung gigi seri atas, tetapi sifat ketiganya berbeda. Berikut perbedaan sifat ketiga huruf tersebut:
 
ث   Hams, rakhawah, istifal, infitah
ذ   Jahr, rakhawah, istifal, infitah
ظ   Jahr, rakhawah, isti’la, ithbaq


Untuk makhraj tsa (ث), dzal (ذ), & dzha (ظ) idghamnya pada 2 hal. Yaitu:

1. Idgham  tsa (ث) pada dzal (ذ)
 
11يَلْهَث ذَّلِكَ
 
2. Idgham  dzal (ذ) pada dzha (ظ)
 
12إِذظَّلَمْتُمْ

Makhraj Ketiga

Huruf mim dan ba keluar dari makhraj yang sama, yaitu asy syafatain (dua bibir), tetapi sifat keduanya berbeda. Berikut perbedaan sifat dari kedua huruf tersebut:
 
ب   Jahr, syiddah, istifal, infitah, qalqalah
م   Jahr, tawassuth, istifal, infitah


Untuk makhraj mim dan ba. Idghamnya ada pada satu hal, yaitu:

1.Idgham ba (ب) pada mim (م)
 
13ارْكَب مَّعَنَا 
 
Catatan
 
-Idgham ba pada mim dibaca ghunnah.
-Idgham ini menurut Riwayat Hafs dari jalur Syathibiyyah, Adapun menurut Riwayat Hafsh dari jalur Thayyibatun Nashr, diperbolehkan dua hal, yaitu idgham dan idzhar14
 
Kemudian, Penulis rahimahullah berkata:
 
ثُــمَّ إنْ سَكَـــنْ أَوَّلُ كّــلًّ فَالصَّغِيرَ سَمَّيَـــنْ
 
“Kemudian jika  awal semua jenis ini (Mitslain, Mutaqaribain, Mutajanisain) hurufnya sukun, maka disebut dengan Shaghir”
 
أَوْ حُــرَّكَ الحـــرَفَانِ فِي كُلًّ فَقُلْ كُــلٌّ كَبِيرٌ وَاْفْهَمَنْهُ بِالُمثُــلْ
 
“Dan jika kedua hurufnya berharakat pada semua jenis (Mitslain, Mutaqariain, Mutajanisain) maka disebut dengan Kabir dan fahamilah yang kabir itu dengan mengambil contoh (talaqqy)”
 
Sahabat Al-Qur’an sekalian, sebagaimana kita ketahui bahwa Idgham shaghir adalah:
 
أَنْ يَكُوْنَ الْحَرْفُ الأَوَّلُ مِنْهُمَا سَاكِنًا وَ الثَّانِي مُتَحَرِّكًا
 
“Huruf pertama sukun dan huruf kedua berharakat”
 
Maka contoh dari Idgham mutajanisain shaghir ini adalah:
 
15إِذْهَمَّت طَّآئِفَتَانِ  16قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ 

Adapun Idgham Kabir pada Riwayat hafsh dari jalur Syathibiyyah tidak ada periwayatannya.

Demikianlah akhir penjelasan singkat mengenai bab mitslain, mutaqaribain dan mutajanisain dari matan tuhfatul athfal ini.

Akhukum fillah
Abu Fauzan


[1] Shafaatu min ‘Ulumil Qur’an wa Tajwid (hal. 280) dan Tajwid lengkap (hal. 304)
[2] QS. Al A’raf 7 : 189
[3] QS. Yunus 10 : 89
[4] Taisir Ilmit Tajwid (hal 71) & Tajwid Lengkap (hal. 302)
[5] QS. Ali Imran 3 : 122
[6] QS. Ali Imran 3 : 69
[7] QS. Al Mudatstsir 74 : 14
[8] QS. Al Baqarah 2 : 256
[9] QS. An Naml 27 : 22
[10] QS. Al Maidah 5 : 28
[11] QS. Al A’raf 7 : 176
[12] QS. Az Zukhruf 43 : 39
[13] QS. Hud 11 : 42
[14] Lihat Taisir Ilmit Tajwid (hal. 72) & Tajwid Lengkap (hal. 303)
[15] QS. Ali Imran 3 : 122
[16] QS. Al Baqarah 2 : 256

 

Bilangan Shalat Wajib dan Syarat Wajib Shalat

 Bilangan Shalat Wajib dan Syarat Wajib Shalat


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه وَمَنْ وَالاَهُ. أمَّا بعد
 
Saudara sekalian di grup whatsapp Belajar Islam yang semoga dimuliakan oleh Allah rabbul 'alamin, kita lanjutkan kembali kajian kitab Al Fiqhul Muyassar. Kali ini kita akan membahas tentang dua perkara, yaitu bilangan shalat wajib dan syarat wajib shalat.
 
Pembahasan Pertama: Bilangan shalat wajib
 
Shalat wajib dalam sehari semalam itu ada lima: Shalat Fajar (Subuh), Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya. Ini adalah perkara yang disepakati.
 
Diantara dalilnya adalah hadits Thalhah bin Ubaidillah, dalam hadits tersebut diceritakan bahwa seorang Arab Baduy bertanya kepada baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah shalat apa saja yang diwajibkan atasku?” jawaban Nabi:
 
خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ
 
“Lima kali shalat dalam sehari semalam” (Shahih, HR. Muslim)
 
Demikian diantara dalilnya adalah hadits yang bersumber dari Shahabat Anas bin Malik radhiallahu ta'ala anhu tentang kisah orang pedalaman dan perkataannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
 
“'Utusanmu mengatakan bahwa, wajib atas kami melakukan shalat dalam sehari semalam sebanyak 5 kali ?' jawaban Nabi: 'Benar apa yang dikatakannya'.” (HR. Muslim)
 
Pembahasan kedua: Kepada siapakah shalat itu diwajibkan?1
 
Shalat itu wajib atas setiap muslim yang balig lagi berakal, demikian pula bukan seorang wanita yang sedang haid atau nifas.
 
Jika seorang anak telah mencapai usia tujuh tahun maka dia diperintahkan untuk melakukan shalat, dan jika mencapai usia sepuluh tahun maka dipukul (sehingga dia shalat), hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
 
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ لِسَبْعٍ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ، وفَرِّقوا بَيْنَهُمْ فيِ الْمَضَاجِعِ
 
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat setelah usia tujuh tahun, dan pukullah mereka agar melakukan shalat setelah usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka di tempat tidur”2
 
Jadi, setelah anak berusia sepuluh tahun, jangan campur ketika di tempat tidur.
 
Adapun dalil tentang syarat wajib tadi, adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
 
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ
 
"Qalam itu diangkat dari tiga orang (tidak ada kewajiban),"
 
Lalu disebutkan diantaranya:
 
وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ
 
"Dan dari anak kecil sehingga dia balig."
 
Selanjutnya ada sedikit faidah dari hadits yang memerintahkan agar orang tua memukul anaknya setelah memasuki usia sepuluh tahun, hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan hadits ini hasan. Sedikit catatan terkait dengan ilmu pendidikan.
 
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya Syarah Riyadus Shalihin, beliu berkata:
 
وفي هذا الحديث إشارة إلى أن ما ذهب إليه بعض المتأخرين ممن يدّعون أنهم أصحاب تربية من أن الصغار لا يضربون في المدارس إذا أهملوا، ففي هذا الحديث الرد عليهم، وهو دليل على بطلان فكرتهم، وأنها غير صحيحة؛ لأن بعض الصغار لا ينفعهم الكلام في الغالب، لكن الضرب ينفعهم أكثر، فلو أنهم تركوا بدون ضرب؛ لضيّعوا الواجب عليهم، وفرّطوا في الدروس وأهملوا، فلابد من ضربهم ليعتادوا النظام، ويقوموا بما ينبغي أن يقوموا به، وإلا لصارت المسألة فوضى
 
"Dalam hadits di atas ada isyarat, bahwa pendapat sebagian mutaakhhirin (orang-orang terakhir) dari kalangan orang yang mengaku sebagai ahli pendidikan, yakni pendapat mereka bahwa anak kecil ketika lalai di sekolah itu tidak boleh dipukul."
 
"Maka hadits ini merupakan bantahan bagi mereka dan bukti atas kebatilan pendapat mereka, karena anak kecil biasanya jika sebatas ucapan itu tidak bermanfaat bagi mereka, akan tetapi pukulan itu lebih bermanfaat bagi mereka (menjadikan mereka jera dan menurut)."
 
"Seandainya mereka ditinggalkan begitu saja tanpa dipukul, niscaya mereka akan melalaikan kewajiban-kewajiban atas mereka. Mereka lalai dalam pelajaran, maka hendaklah mereka juga dipukul agar terbiasa dengan aturan dan mereka menuanaikan kewajiban dengan semestinya, jika tidak demikian masalahnya akan kacau."
 
Tapi tentunya pukulan tersebut ada syarat-syaratnya diantaranya adalah: jangan memukul wajah, kemudian pukulannya tidak menjadikan badan memar dan seterusnya.
 
Intinya dalam haidts yang memerintahkan orang tua untuk memukul anak anaknya setelah usia sepuluh tahun ada isyarat tentang batilnya perkataan sebagian ahli pendidikan yang mengatakan bahwa "Anak tidak boleh dipukul secara mutlak".
 
Para pendengar yang dimuliakan Allah rabbul 'alamin, semoga materi yang saya sampaikan ini bermanfaat.

Akhukum filllah
Abu Sumayyah Beni Sarbeni

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

[1] Dalam istilah ulama fiqih hal ini disebut dengan Syarat Wajib Shalat, dimana jika perkara-perkara tersebut terpenuhi pada seorang hamba maka wajib atasnya melakukan shalat.

[2] Diriwayatkan oleh Ahmad (3/ 201), Abu Dawud (494), at-Tirmidzi (407), dan beliau berkata: “Hadits Hasan”, dishahihkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/ 201) dan dishahihkan oleh al-Albani (al-Irwa no. 247).

 

Waktu-Waktu Shalat #3

 Waktu-Waktu Shalat #3


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه وَمَنْ وَالاَهُ. أمَّا بعد
 
Saudara sekalian di grup whatsapp Belajar Islam yang semoga dimuliakan oleh Allah rabbul 'alamin, kita lanjutkan kajian kitab Al Fiqhul Muyassar), masih membahas tentang waktu-waktu shalat.
 
Sebelumnya sudah saya sampaikan waktu shalat dzuhur dan ashar, kali ini bagian yang ketiga adalah waktu shalat maghrib.
 
3. Waktu shalat maghrib
 
Adapun waktu shalat Magrib adalah dari terbenamnya matahari sampai hilangnya warna kemerahan (mega) di Ufuk barat, hal itu berdasarkan sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam:
 
وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ
 
“Dan waktu shalat magrib adalah selama mega merah belum terbenam.”
 
Artinya jika sudah terbenam maka berakhirlah waktu shalat maghrib.
 
Faidah selanjutnya, untuk shalat maghrib ini ditekankan secara khusus untuk dilakukan di awal waktu.
 
Penulis berkata: Dan disunnahkan melakukannya di awal waktu (walaupun secara umum shalat fardu ini pada asalnya diutamakan di awal waktu). Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
 
لاَ تَزَالُ أُمَّتَي بِخَيْرٍ مَا لَمْ يُؤَخِّرُوا الْمَغْرِبَ حَتَّى تَشْتَبِكَ النُّجُوْمُ
 
“Ummatku senantiasa ada dalam kebaikan selama mereka tidak mengakhirkan shalat magrib, yakni sehingga bintang-bintang yang banyak bermunculan.”1
 
Ini menunjukkan anjuran untuk melakukan shalat maghrib di awal waktu.
 
Kecuali pada malam di Muzdalifah bagi orang yang menunaikan haji, disunnahkan baginya untuk mengakhirkan shalat maghrib bahkan dijamak dengan Isya (Jamak ta’khir).
 
4. Waktu shalat Isya
 
Adapun shalat Isya, maka waktunya dimulai semenjak hilangnya mega merah di ufuk sampai pertengahan malam, hal itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
 
وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ
 
“Dan waktu shalat Isya hingga separuh malam yang tengah” 2  
 
Dianjurkan mengakhirkan shalat isya sampai akhir waktu (yakni pertengahan malam) selama tidak menyulitkan, dimakruhkan tidur sebelum Isya juga dimakrukan berbincang-bincang setelah Isya tanpa ada kebutuhan, hal itu berdasarkan hadits Abu Barzah radhiallahu ta'ala anhu:
 
أَنَّ رَسُوْلَ الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ، وَالْحَدِيْثَ بَعْدَهَا
 
“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum Isya dan bincang-bincang setelahnya.” (HR. al-Bukhari no.568, dan Muslim no.647)
 
5. Waktu shalat subuh
Adapun waktu shalat subuh (fajar) adalah dari terbit fajar yang kedua (fajar shadiq), sampai terbit matahari dan dianjurkan menyegerakan shalat subuh jika diyakini bahwa fajar shadiq telah terbit.
 
Saudara sekalian yang dimuliakan oleh Allah rabbul 'alamin, inilah waktu-waktu yang disyariatkan untuk menunaikan shalat fardhu yang lima, maka wajib bagi setiap muslim untuk menjaganya jangan sampai seseorang melakukan shalat di luar waktu, karena Allah subhanahu wa ta’ala mengancam orang demikian, Allah rabbul 'alamin menegaskan:
 
فَوَيۡلُ لِّلۡمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ  
 
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maun [107]: 4-5)
 
Dalam ayat lainnya Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
 
فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا  
 
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam [19]: 59)
 
Al-Gayy yang ada pada ayat di atas maksudnya adzab yang pedih lagi berlipat-lipat dan keburukan dalam neraka Jahannam, hanya kepada Allah kita memohon perlindungan.
 
Selanjutnya fadidah yang juga sangat penting, bahwa melakukan shalat di awal waktu adalah amal yang paling utama dan paling dicintai, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya: “Amal apakah yang paling dicintai Allah? lalu beliau menjawab: “Shalat di awal waktu.”3
 
Jadi, seutama-utama amal adalah shalat di awal waktu, dikecualikan dari hadits ini adalah shalat dzuhur ketika sangat panas maka dianjurkan untuk diakhirkan sampai teduh yaitu menjelang ashar, demikia pula shalat isya jika tidak masyaqqah (ada kesulitan) untuk diakhirkan.
 
Saudara sekalian yang dimuliakan oleh Allah rabbuh 'alamin, demikianlah bahawan tentang waktu-waktu shalat fardhu. Semoga apa yang saya sampaikan dipahami dengan baik dan tentunya bermanfaat.

Akhukum fillah,
Abu Sumayyah Beni Sarbeni

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

[1] Diriwayatkan oleh Ahmad (4/ 174), Abu Dawud (no. 418), dan al-Hakim (1/ 190-191), beliau menshahihkannya dengan syarat Muslim, dan disepakati oleh ad-Dzahabi.

[2] Kalimat al-Ausath (yang tengah), maksudnya malam yang pertengahan,panjangnya malam kadang berbeda-beda, maka panjang malam  yang pertengahan itu sekitar 12 jam. Oleh karena itu pertengahan malam yang dimaksud adalah 6 jam setelah masuknya waktu magrib.

[3] Muttafaq alaihi, diriwayatkan oleh al-Bukhari (527), dan Muslim (139)

Waktu-Waktu Shalat #2

 Waktu-Waktu Shalat #2


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه وَمَنْ وَالاَهُ. أمَّا بعد
 
Saudara sekalian yang dimuliakan oleh Allah rabbul 'alamin, kita lanjutkan kajian kitab Al Fiqhul Muyassar (fiqih praktis), yang kali ini kita akan membahas tentang waktu-waktu shalat (shalat fardu).
 
Bab Ketiga : Tentang Waktu-waktu Shalat

Shalat yang wajib itu sebanyak lima kali dalam sehari semalam, masing-masing dari shalat tersebut memiliki waktu yang telah ditentukan didalam syariat, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوۡقُوتًا  ١٠٣

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa [4]: 103)
 
Maksudnya shalat itu merupakan kefardhuan (kewajiban) yang telah ditetapkan waktu-waktunya, maka tidak sah dilakukan sebelum masuk waktunya.
 
Di antara dalil yang paling utama membahas tentang waktu-waktu shalat, yaitu hadits yang dibawakan oleh Shahabat yang mulia Abdullah bin Umar radhiallahu anhu, kata beliau:

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 
وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُوْلِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ، وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرِ الشَّمْسُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوْعِ الْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ
 
“Waktu shalat zuhur adalah ketika matahari tergelincir sampai bayangan benda seperti tingginya, yakni selama belum masuk waktu shalat ashar, waktu shalat ashar adalah selama matahari belum menguning, waktu shalat magrib adalah selama mega merah belum terbenam, waktu shalat Isya hingga separuh malam yang tengah, dan waktu shalah subuh dari mulia terbitnya fajar sampai sebelum matahari terbit.” (HR. Muslim no. 216)
 
Saudara sekalian yang dimuliakan Allah rabbul 'alamin, mari kita rinci satu-persatu.
 
1. Waktu shalat dzuhur

Jadi, waktu shalat zuhur dimulai dengan Zawalus Syamsi, artinya tergelincirnya matahari dari tengah-tengah langit ke arah barat, dan berlangsung sampai bayangan benda setinggi aslinya,
 
Kemudian dianjurkan melakukan shalat dzuhur di awal waktu kecuali jika cuaca sangat panas, maka dianjurkan mengakhirkannya sehingga cuaca lebih teduh yang disebut dengan Ibrad sehingga cuaca teduh yakni menjelang ashar,
 
Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
 
إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلاَةِ فَإِنَّ شِدَّة الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ
 
“Jika cuaca sangat panas, maka akhirkanlah shalat zuhur (sampai cuacanya teduh), karena sungguh keadaan yang sangat panas adalah semburan panas neraka Jahannam” (HR. Bukhari no. 615, dan Muslim no. 533-534)
 
2. Waktu shalat ashar
 
Adapun waktu shalat Ashar dimulai dari berakhirnya waktu shalat Zuhur, yakni ketika bayangan benda sama dengan tinggi aslinya, dan berakhir dengan terbenamnya matahari, atau berakhir dengan berakhirnya  Isfirar (menguningnya matahari),
 

Dalam madzhab syafi'iyyah waktu shalat ashar itu terbagi menjadi dua, ada waktu ikhtiar, ada waktu idtirar.
 
Waktu ikhtiar, waktu yang seseorang diperbolehkan untuk melakukan shalat ashar, adapun waktu idtirar yaitu waktu darurat seseorang melakukan shalat ashar.
 
Waktu ikhtiar diawali dari berakhirnya waktu shalat dzuhur yaitu bayangan sesuai dengan tinggi bendanya sampai awal wakti isfirar (menguningnya matahari).1
 
Adapun ketika matahari sudah menguning seperti itu sampai terbenamnya matahari, itu disebut waktu idtirar (darurat), yang asalnya tidak boleh seseorang melakukan shalat ashar diwaktu tersebut kecuali dalam keadaan darurat.
 
Kemudain dianjurkan melakukan shalat ashar di awal waktu, ialah yang dimaksud dengan Shalat Wustha yang sangat ditegaskan di dalam Al-Qur’an untuk dijaga, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
 
حَٰفِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ  
 
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu." (QS. Al-Baqarah [2]: 238)
 
Baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pun memerintahkan kita untuk menjaga shalat ashar ini, beliau bersabda:
 
مَنْ فَاتَتْهُ صَلاَةُ الْعَصْرِ فَكَأَنَّمَا وُترَ أَهْلُهُ وَمَالُهُ

“Barang siapa yang tertinggal menunaikan shalat Ashar, maka seolah-olah berkurang keluarga dan hartanya” (HR.  al-Bukhari (552), dan Muslim (626) dengan lafazh dalam riwayat Muslim)
 
Dalam hadits lainnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
 
“Barang siapa meninggalkan shalat Ashar maka hancurlah amalnya.” (HR.  al-Bukhari no.553)
 
Saudara sekalian yang dimuliakan oleh Allah rabbul 'alamin demikianlah bahasan pertama tentang waktu-waktu shalat, dan besok kita masih membahas tentang waktu-waktu shalat.

Semoga bisa dipahami dengan baik dan tentunya bermanfaat.
 
Akhukum fillah
Abu Sumayyah Beni Sarbeni

[1] Yakni waktu dimana warna matahari mulai berubah tidak capek dilihat mata, dan terlihat ada warna kuning di bumi dan dinding-dinding, ia adalah waktu dimana matahari hendak terbenam.