بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد
Ikhwah sekalian di grup whatsApp Belajar Islam yang semoga dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, kita lanjutkan kajian tazkiyatun nufus. Kali ini saya masih menyampaikan materi tentang sebab tazkiyatun nufus.
Sebab yang ketiga yakni mengetahui akibat buruk perbuatan dosa terhadap jiwa.
Penulis hafidzhahullah berkata, dalam mensucikan jiwa hendaknya seorang hamba mengenali betul keimanan, ia pun mengetahui sebab-sebab bertambah dan berkurangnya keimanan. Demikian pula mengetahui dosa juga pengaruhnya tehadap jiwa. Karena sungguh dosa itu berpengaruh terhadap jiwa.
Sayangnya sebagian manusia tidak mengetahui masalah ini, sehingga ketika jatuh ke dalam dosa, ia tidak mengetahui obatnya.
Perumpamaannya seperti orang yang sakit, tidak mengetahui pengobatan sehingga ketika sakit menimpa maka penyakit merusaknya bahkan bisa menyebabkan kematian. Adapun perumpamaan orang yang mengenali dosa dan sebab-sebab yang bisa menghapusnya adalah seperti seorang dokter, ketika sakit menimpanya maka ia segera mengobatinya.
Kemudian sebagaimana dimaklumi bahwa tidak ada seorangpun yang bisa terlepas dari dosa, orang awam bahkan seorang 'alim sekalipun, laki-laki maupun perempuan, pada malam hari maupun siang, semuanya hampir tidak selamat dari dosa, kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Dan ikhwah sekalian, di antara kitab yang paling bagus membahas tentang efek buruk dari perbuatan dosa adalah Kitab ad-Daa’ wa ad-Dawaa' karya al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauzi dan karena itu pula al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauzi di juluki thabiibul qalbi (dokternya hati).
Selanjutnya penulis berkata, faidah tingkatan manusia ketika melakukan dosa.
Sungguh manusia itu bertingkat-tingkat ketika dia telah melakukan perbuatan dosa. Hal itu sesuai dengan tingkatan ilmunya terhadap syari'at demikian pula sesuai dengan tingkat pemahamannya terhadap takdir.
Tingkatan pertama atau golongan pertama, adalah orang yang ketika melakukan dosa maka ia menisbatkannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala, menyandarkannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Ia merasa bahwa ia dipaksa dalam melakukan hal itu (majbur), tidak ada kehendak baginya. Barangsiapa yang demikian keadaannya maka ia serupa dengan kaum musyrikin yang dikabarkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya,
سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا
"Orang orang yang menyekutukan Allah mereka berkata, jika Allah menghendaki niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak akan menyekutukannya." (QS. Al-An'am : 148)
Jadi perbuatan-perbuatan syirik yang mereka lakukan mereka sandarkan kepada Allah rabbul 'alamin. Ini pula sikap kaum Jabriyyah dan orang yang terkena bid'ah juga kesesatannya, ketika salah seorang diantara mereka melakukan dosa, maka dia berkata, seandainya Allah menghendaki, maka Allah tidak akan mentakdirkan aku seperti ini.
Dan banyak kita dengar sebagian kaum muslimin mengatakan ucapan seperti itu. Mereka berhujjah dengan takdir atas perbuatan dosa yang mereka lakukan.
Selanjutnya syaikh mengatakan : ada yang mengatakan bahwa orang yang pertama kali berhujjah, berdalil dengan takdir atas perbuatan dosa adalah Iblis. Setelah bermaksiat ia berkata, "Ya Tuhanku oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat." Jadi menisbatkan kesesatan kepada Allah sebagaimana yang Allah jelaskan dalam surah Al-Hijr ayat 39. Iblis menisbatkan kesesatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Berbeda dengan Adam 'alaihis salam ketika dia bermaksiat kepada Allah, dia berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami niscaya pastilah kami termasuk orang orang yang merugi." Jadi perbuatan maksiat yang dilakukan dinisbatkan kepada dirinya sendiri bukan kepada Allah Rabbul 'Alamin.
Adam bertaubat dan beristighfar, karena itulah Allah subhanahu wa ta'ala menerima taubatnya sementara iblis celaka karena dia terus menerus dalam kemaksiatan dan beralasan dengan takdir atas dosa yang dia lakukan.
Inilah golongan pertama orang yang berlaku dosa, yakni seorang hamba merasakan bahwa dia dalam keadaan terpaksa dan Allah lah yang mentakdirkan dia berbuat maksiat.
Allah lah yang mentakdirkan segala sesuatu akan tetapi tidak dibenarkan bagi seseorang berhujjah (berdalil) dengan takdir atas maksiat yang ia lakukan. Ia boleh berhujjah dengan takdir atas musibah yang menimpanya, bukan atas maksiat. Sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama
لا يحتج بالقدر على المعايب و انما يحتج به على المصائب
"Tidak boleh berhujjah dengan takdir atas perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh seseorang, ia hanyalah boleh berhujjah dengan takdir atas musibah yang menimpanya."
Ikhwah sekalian demikianlah materi yang bisa saya sampaikan mudah-mudahan bisa dipahami dengan baik.
Akhukum fillah,
Abu Sumayyah Beni Sarbeni






0 komentar:
Posting Komentar