Minggu, 07 Juni 2020
Kesalahan-kesalahan Suara Ketika Membaca Al Qur-an
Juni 07, 2020
No comments
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَىٰ عَبۡدِهِ ٱلۡكِتَٰبَ وَلَمۡ يَجۡعَل لَّهُۥ عِوَجَاۜ، والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين ، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
Para pendengar Belajar Islam yang semoga Allah subhanahu wa ta'ala muliakan, membaca Al Qur-an dengan bertajwid merupakan bacaan yang ringan, nikmat, dan lembut.
Bacaannya tidak berkomat kamit, tidak dipaksa-paksakan, tidak dibuat-buat, tidak berlebihan dan tidak menyimpang dari tabiat orang arab dan ucapan orang fasih dari segi apapun dalam cara membaca dan menyampaikan bacaannya.
Pada kesempatan pelajaran kali ini setelah kita membahas huruf-huruf hijaiyah dan organ-organ suara, saya akan mencontohkan kesalahan-kesalahan suara ketika membaca Al Qur-an yang tidak secara alami mengalir.
Contoh ini saya kutip dari penjelasan Dr. Aiman Rusydi Suwaid di dalam videonya Ta’limut Tajwid ketika beliau menjelaskan kalamnya Imam Ibnul Jazari di dalam kitabnya ‘An Nashr’,
pada video tersebut beliau menjelaskan dan mencontohkan delapan kesalahan-kesalahan suara ketika membaca Al Qur-an, berikut penjelasannya:
1. Tamdighul Lisan (تمضيغ اللسان) Tamdhigh, berasal dari mudghah, yaitu gumpalan. Dimana ketika seseorang membaca Al Qur-an, seolah-olah pada mulutnya ada gumpalan, dan dia berbicara atau membaca dengan kondisi seperti itu.
Saya akan mencontohkan bacaan yang salah ini kepada pendengar sekalian, sehingga kita dapat terhindar dari cara membaca tersebut, (contoh)
Inti dari cara baca seperti itu adalah takalluf/berlebihan/seperti dibuat-buat sehingga menyusahkan diri sendiri, padahal membaca Al Qur-an dengan tajwid merupakan bacaan yang ringan.
2. Taq’irul Fam (تقعير الفم) Taq’ir berasal dari Qa’ar, yaitu Fulan berbicara dengan cara taq’ir’ artinya ‘Fulan berbicara dari dalam tenggorokannya’.
Para pendengar sekalian, sebagaimana kita ketahui, huruf-huruf yang ada ditenggorokan adalah hanya ada 6 saja: أ ، هـ ، ع ، ح ، خ ، غ
Yang menjadi suatu kesalahan pembaca dalam membaca Al Qur-an dengan cara Taq’ir ini adalah karena tekanan yang berlebihan pada tenggorokan ketika berbicara atau membaca, sehingga dengannya akan keluar huruf-huruf yang menyerupai huruf ‘ain. (contoh)
Cara baca tersebut disebabkan karena terlalu menekannya bacaan seseorang kepada tenggorokannya. Maka hindarilah hal tersebut dengan cara yang biasa!
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ ٢
“Kami tidak menurunkan Al Qur-an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.”
3. Ta’wijil Fak (تعويج الفكّ) Ta’wij pada rahang yaitu membaca dengan cara imalah pada yang bukan tempatnya.
Dan Imalah adalah melafalkan alif yang dimiringkan, yaitu antara alif dan ya. (contoh)
Pada contoh di atas seseorang ini menjadikan rahang bagian bawahnya senantiasa dikebawahkan ketika melafalkan huruf-huruf yang dibaca, dan itu tidak diperbolehkan!
4. Tar’idus Saut (ترعيد الصوت) Tar’id pada suara, yaitu menjadikan suara seolah-olah bergetar dan berguncang (contoh), cara ini adalah terlarang,
bisa jadi sebenarnya seseorang ini pada awalnya tidak membaca seperti itu, namun mungkin karena hal hal tertentu, sehingga bacanya jadi seperti itu.
Ada yang membolehkan membaca seperti itu, namun itu juga ketika seseorang merasa tersentuh dan menangis ketika membaca Al Qur-an secara spontan bukan dibuat-buat.
5. Tamthithus Syaddi (تمطيط الشّدّ) Tamthith pada huruf bertasydid, yaitu memanjangkan huruf yang bertasydid, (contoh).
Yaitu seorang pembaca melafalkan huruf-huruf yang bertasydid, dia panjangkan bacaannya, padahal sebagaimana kita ketahui bahwa mad pada huruf-huruf yang bertasydid hanya ada pada mim, nun dan gunnah.
6. Taqhti’ul Mad (تقطيع المد) Taqhti pada mad, maksudnya yaitu perpindahan dari satu tingkatan suara ke tingkatan suara yang berbeda dalam satu huruf mad, (contoh).
Hal ini tidak diperbolehkan, kenapa tidak boleh? Karena akan melahirkan beberapa mad dalam satu huruf mad tersebut.
7. Tahthninul Ghunnah (تطنين الغنات) Tathnin pada ghunnah/dengung ini serupa dengan taqthi pada mad, contoh:
من الجنّة و النّاس
Itulah yang disebut Tahthninul Ghunnah yaitu bergetarnya gunnah tersebut, adapun yang benar adalah (contoh)
8. Hashramatur Raa aat (حصرمة الراءات) Hasramah pada huruf ra.
Hasramah secara bahasa bermakna penyempitan, maksudnya seseorang menahan suara ra sedemikian rupa sehingga suara seperti terputus, (contoh).
Pada bacaan tersebut huruf ra yang dilafalkan seakan akan terputus dan tertahan, padahal suara ra mengalir sebagaimana sifat yang disifatkan kepadanya, yaitu bainiyan (diantara rakhawah dan syiddah). (Contoh)
Pendengar sekalian, semua poin kesalahan suara ketika membaca Al Qur-an diatas, saya sebutkan agar bisa kita pahami dan bisa kita hindari kesalahan-kesalahannya, dan yang terakhir, kesimpulan dari poin-poin diatas adalah takalluf.
Demikian yang bisa disampaikan.
Akhukum fillah
Abu Fauzan
Terbentuknya Suara dan Huruf pada Organ-Organ Suara Manusia
Juni 07, 2020
No comments
بسم الله الرحمن الرحيم
،ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَٰتِ وَٱلنُّورَۖ ثُمَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ يَعۡدِلُونَ
والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
Para pendengar Belajar Islam yang semoga Allah subhanahu wa ta'ala muliakan, setelah kemarin kita membahas tentang organ-organ suara. Pada kesempatan kita kali ini, bi idznillahi ta’ala, kita akan membahas mengenai cara terbentuknya suara dan huruf pada organ-organ suara manusia.
Terbentuknya suara pada organ-organ manusia dapat kita ketahui dengan 4 cara, sebagaimana terbentuknya suara dialam sekitar kita:
1. Benturan (Tashadum), yaitu benturan dua benda, misalnya tepukan tangan atau pukulan benda tertentu, maka dengan adanya dua benturan benda tersebut, terdengarlah suara oleh telinga kita
2. Menjauh/Terpisah (Tabaa’ud), yaitu terpisahnya dua benda, misalnya sobekan kertas atau kayu yang patah
3. Getaran (Ihtizaz), misalnya penggaris besi yang digetarkan
4. Gesekan (Ihtikak), misalnya menggergaji kayu.
Demikian juga terbentuknya huruf-huruf hijaiyah didalam organ-organ manusia sama persis seperti penjelasan diatas, dan berikut 3 hal penting cara terbentuknya huruf-huruf hijaiyah tersebut:
1. Huruf-huruf sukun
Huruf-huruf sukun keluar karena benturan antara dua ujung organ suara. Misalnya mim sukun:
أَمْ
maka akan terdengar suaranya ketika dua bibir tersebut dirapatkan.
Apakah memungkinkan jikalau seseorang ingin mengucapkan huruf mim sukun akan tetapi kedua bibirnya tidak dirapatkan? Silahkan dicoba pasti susah.
2. Huruf-huruf berharakat
Sebagaimana kita ketahui keadaan huruf-huruf yang berharakat ada 3, yaitu fathah, kasrah dan dhammah.
Maka huruf-huruf yang berharakat, keluar karena adanya dua ujung organ suara yang saling menjauh, diiringi makhraj asli harakatnya, contoh:
مَ – مِ - مُ
Kalau tadi, ketika mim sukun dilafalkan dengan cara kedua bibirnya dirapatkan:
أَمْ
Adapun sekarang ketika dia berharakat, maka dijauhkan kedua bibir tersebut, untuk melafalkannya:
مَ
Dan mim yang berharakat fathah ketika dilafalkan, dia diiringi oleh makhraj asli harakatnya. Apa makhraj asli harakat fathah?
Makhraj asli harokat fathah adalah alif, maka ketika kita melafadzkan huruf mim yang berharakat fathah tersebut, sejatinya kita sedang mengeluarkan huruf mim dan alif secara bersamaan:
مَ
Demikian pula ketika kita mengucapkan huruf mim yang berharakat dhammah:
مُ
Maka dia akan diiringi oleh makhraj asli harakatnya yaitu wawu
مُ
Dan ketika kita mengucapkan huruf mim yang berharakat kasrah maka dia akan diiringi oleh makhraj asli harakatnya yaitu ya:
مِ
yang kesemua makhraj asli harakat tersebut adanya di al Jauf (rongga tenggorokan dan rongga mulut).
3. Huruf-huruf mad dan lien
Huruf-huruf mad dan lien keluar karena getaran pada pita suara di dalam tenggorokan, diiringi terbukanya mulut saat melafalkan alif.
Mad secara bahasa adalah ziyadah yang artinya menambah.
Adapun menurut istilah, mad adalah memanjangkan suara dengan salah satu dari huruf mad.
Huruf-huruf mad adalah:
ﹷ اْ ، ﹹ وْ ، ﹻ يْ
Contoh
يَا
Ketika huruf yaa bertemu dengan alif sukun yang berharakat fathah dilafalkan, mulut terbuka dengan tanpa berlebihan, posis lidah dalam keadaan normal (tidak terangkat) dan pita suara bergetar, sehingga dengan keadaan tersebut keluarlah huruf alif mad pada huruf ya yang dipanjangkan tersebut:
يَا
Adapun ketika seseorang membaca wawu madiyah:
قُو أَنْفُسَكُمْ
maka bagian pangkal lidah terangkat saat melafalkannya disertai bibir yang dimonyongkan.
قُو أَنْفُسَكُمْ
Dan ketika seseorang membaca ya madiyah seperti:
فِي أَنْفُسِهِمْ
maka bagian tengah lidah terangkat saat melafalkannya, demikian.
Adapun lien Secara bahasa adalah lembut/lunak, dimana ketikan melafalkan huruf lien tersebut dilakukan dengan lembut tanpa adanya penekanan.
huruf-huruf lien ada 2 yaitu:
ﹷ وْ ، ﹷ يْ
Contoh:
خَوْف - قُرَيْش
Demikian yang disampaikan.
Akhukum fillah
Abu Fauzan
Organ-Organ Suarai
Juni 07, 2020
No comments
Organ-Organ Suara
بسم الله الرحمن الرحيم
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَىٰ عَبۡدِهِ ٱلۡكِتَٰبَ وَلَمۡ يَجۡعَل لَّهُۥ عِوَجَاۜ، والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحَابَتِه أجمعين، والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
Para pendengar Belajar Islam yang semoga Allah subhanahu wa ta'ala muliakan, setelah kemarin kita mengenal dua jenis huruf-huruf Arab dan definisinya. Pada kesempatan ini, bi idznillah ta’ala, kita akan membahas organ-organ suara makhraj utama huruf Arab.
Makhraj-makhraj utama huruf Arab dibagi menjadi 4:
1. Al Jauf (rongga tenggorokan & rongga hidung),
2. Al Halqu (tenggorokan),
3. Al Famu (mulut, dibagi dua yaitu lisan & dua bibir) dan
4. Al Khaisyum (rongga hidung)1
Penjelasan:
1). Al Jauf (rongga tenggorokan & rongga hidung), keluar dari makhraj utama ini 3 huruf mad, yaitu:
ﹷ اْ ، ﹹ وْ ، ﹻ يْ
Contoh:
قاَلَ ، وَلاَ الضَّآلِّين ، - يَقُوْلُ ، قُلْ أَعُوْذُ - وَجِي ءَيَوْمَئِذْ ، فِي أَنْفُسِكُمْ
2). Al Halqu (tenggorokan), para ulama tajwid membagi organ suara tenggorokan ini menjadi 3, yaitu:
a. Aqsal Halq (tenggorokan bawah/pangkal), keluar darinya dua huruf yaitu hamzah dan ha, contoh:
يَأْمُرُكُمْ – يُؤْمِنُون ، اِهْدِنَا – أَهْوَآءَ هُمْ
b. Washathul Halq (tenggorokan bagian tengah), keluar darinya dua huruf yaitu 'ain dan haa, contoh:
أَنْعَمْتَ – تَعْمَلُون ، الرَّحْمَن - الرَّحِيْم
c. Adnal Halq (tenggorokan atas), pada bagian ini keluar dua huruf, yaitu ghain dan kha, contoh:
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ – يَبْغُونَ ، خَالِدِينَ فِيهَا - يَخْتَصِمُون
3). Al Famu (mulut)
Pada bagian ini terbagi menjadi dua: lisan dan dua bibir:
a. Lisan terbagi menjadi 4 tempat, yaitu pangkal, pertengahan, tepi dan ujung lidah. Dari keempat tempat ini keluar 18 huruf.
Pembahasan secara rincinya in Syaa Allah akan kita akan bahas pada Bab Makharijul Huruf, adapun contohnya saya akan memberikan satu contoh huruf saja, yaitu huruf sya, dimana huruf sya ini keluar dari pertengahan lidah:
أَشْرَكُوا – شَآءَ
b. Dua Bibir: pada bagian ini keluar 4 huruf yaitu wau, ba, mim dan fa. 3 huruf pertama yang keluar dari dua bibir tersebut adalah wau, ba dan mim.
Catatan wau dilafalkan dengan cara memonyongkan kedua bibir contoh:
أَوْ ، تَعْمَلُون
adapun mim dan ba dikeluarkan dengan cara merapatkan kedua bibir, contoh:
أَبْ ، أَمْ
Dan huruf terakhir dari kedua bibir adalah fa. Fa dikeluarkan dari bagian dalam perut bawah dengan menyentuhkan ujung dua gigi seri atas, contoh:
أَفْ ، تَفْعَلُون
Kemudian organ-organ suara makhraj utama huruf Arab yang terakhir adalah
4). Khaisyum (rongga hidung). Pada rongga hidung ini, seseorang bisa mengeluarkan sebuah bunyi dengung (gunnah) (mencontohkan suara).
Suara yang keluar dari rongga hidung secara dengung tesebut didalam huruf-huruf Arab hanya ada dua yaitu huruf mim dan nun, contoh:
أَمْ ، أَنْ
Ketika saya ucapkan أَمْ maka akan ada dua organ suara yang berperan untuk mengeluarkan suara mim tersebut, yaitu menempelnya kedua bibir dan terbukanya pangkal hidung bagian dalam.
Perlu bukti? Silahkan saja pijit hidung kita ketika kita mengucapkan huruf mim yang disukunkan tersebut. Dan singkatnya pada khaisyum ini keluar segala bunyi ghunnah atau dengung terutama huruf mim dan nun
Demikian materi singkat mengenai organ-organ suara yang bisa saya jelaskan, mudah-mudahan ada bayangan dari materi yang telah disampaikan.
Akhukum fillah
Abu Fauzan
Abu Fauzan
[1] Tajwid Mushawwar (hal. 71)
Sebab-sebab Tazkiyatun Nufus (bag.6)
Juni 07, 2020
No comments
Sebab-sebab Tazkiyatun Nufus (bag.6)
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه وَمَنْ وَالاَهُ
Ikhwah sekalian di grup whatsApp Belajar Islam yang semoga dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, kita lanjutkan kajian Tazkiyatun Nufus, kembali pada bahasan tentang sebab-sebab Tazkiyatun Nufus, kali ini adalah sebab yang keenam yaitu menyibukkan diri dengan amalan-amalan paling utama.
Penulis hafidzahullah berkata:
Di antara sebab tazkiyatun nufus adalah menyibukkan diri dengan amalan paling utama, yang tentunya disesuaikan dengan perbedaan keadaan, tempat dan waktu.
Jadi, seorang hamba melakukan ketaatan-ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala sesuai dengan keadaannya diwaktu tersebut.
Jika kesempatan yang paling utama (paling tepat) adalah berdakwah, maka sibukkanlah dengan mendakwahi dan membimbing manusia, jika kesempatan paling utama adalah menuntut ilmu maka sibukkanlah dengannya, jika kesempatan paling tepat adalah membantu orang lain, dan memenuhi hajat mereka maka sibukkanlah dengannya.
Oleh karena itu, ibadah bisa lebih utama sesuai dengan kadar kebutuhan manusia. Terkadang zamannya adalah zaman yang penuh dengan kefakiran, banyak manusia yang fakir, maka infak untuk memenuhi kebutuhan mereka lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya untuk diri sendiri.
Adapun di zaman fitnah misalnya, zaman yang banyak syubhat mempengaruhi manusia maka kesempatan untuk menjelaskan kebenaran dan menghilangkan syubhat adalah sebaik-baik ibadah yang tidak bisa ditandingi oleh apapun.
Jika seseorang itu faham dan memperhatikan kaidah di atas dengan baik bahwa nilai ibadah itu berbanding lurus dengan kebutuhan manusia, maka ia akan menyibukkan diri dengan ibadah yang sesuai dengan keadaan, waktu, juga tempat.
Adapun jika ia tidak memahami kaidah di atas, maka bisa jadi ia akan sibuk dengan amalan yang tidak lebih utama, lalu ia pun kehilangan banyak keutamaan. Dan para ulama menganggap bahwa, sibuk dalam perkara yang tidak lebih utama dengan meninggalkan perkara yang lebih utama itu termasuk perangkap syaitan.
Hal itu seperti disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Qayyim ketika beliau menjelaskan tentang berbagai hambatan dalam bentuk perangkap syaitan. Hambatan untuk beramal, hambatan untuk bertaqwa kepada Allah dalam bentuk perangkap syaitan, beliau mengatakan:
Hambatan yang ke enam adalah hambatan dalam bentuk yang tidak lebih utama (syaitan menyibukkan seseorang dengan amalan yang tidak lebih utama), syaitan menghiasinya dan menjadikannya baik dihadapan orang tersebut, syaitan menampakan kelebihan dan keuntungan dalam amalan tersebut, agar dia sibuk dengan nya, sementara amalan yang jauh lebih utama dia tinggalkan.
Dia sibuk dengan amalan yang tidak lebih kuat, sambil meninggalkan amalan yang jauh lebih kuat, dia sibuk dengan amalan yang tidak terlalu dicintai oleh Allah subhanahu wa ta'ala sementara dia meninggalkan amalan yang sangat dan lebih dicintai oleh Allah subhanahu wa ta'ala, diapun sibuk dengan amalan yang tidak lebih diridhai oleh Allah subhanahu wa ta'ala dengan mengorbankana amalan yang jauh lebih diridhai oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Demikianlah perkataan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzy dalam kitabnya Madarijus Salikin.
Ikhwah sekalian, tentunya semua ini kembali pada taufiq dari Allah subhanahu wa ta'ala, kemudian berbagai sebab yang dilakuakan oleh seorang hamba seperti doa, tawakal, dan sebab-sebab lainnya. Maksudnya sehingga kita betul-betul bisa melakukan amalan yang lebih utama itu kembali pada taufiq atau pertolongan dari Allah subhanahu wa ta'ala dan tentunya kita membutuhkan ilmu sehingga kita tahu mana amalan yang lebih utama, mana amalan yang lebih dicintai, dan mana amalan yang lebih diridhai oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Ikhwah sekalian, inilah bahasan terakhir dari kitab Tazkiyatun Nafs yang ditulis oleh Asy Syaikh Ibrahim Ar Ruhaily. Beliau di akhir tulisannya mengatakan:
"Inilah sebagian catatan yang ingin saya sampaiakan dalam bab yang sangat luas, sebab tazkiyatun nufus sangatlah luas sebagaimana yang telah kami isyaratkan sebelumnya dengan berharap semoga catatan ini bermanfaat, dan sesuai dengan tujuan, yakni hanya sebatas mengingatkan bab yang sangat luas ini, bukan merincinya secara detail. Tentunya hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala kita memohon agar diberikan taufiq pertolongan untuk mengamalkannya. Hanya pada Allah kita memohon agar Allah memberikan kusucian jiwa dan kemampuan untuk senantiasa taat kepadanya."
Ikhwah sekalian demikian lah materi yang ingin saya sampaikan pada pagi ini, semoga bermanfaat .
Akhukum fillah
Abu Sumayyah Beni Sarbeni
Sebab-sebab Tazkiyatun Nufus (bag.5)
Juni 07, 2020
No comments
Sebab-sebab Tazkiyatun Nufus (bag.5)
Sebab-sebab Tazkiyatun Nufus (bag.5)
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه وَمَنْ وَالاَهُ
Ikhwah sekalian di grup whatsApp Belajar Islam yang semoga dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, kita lanjutkan kajian Tazkiyatun Nufus, kita masih membahas tentang sebab-sebab Tazkiyatun Nufus, kali ini adalah sebab yang kelima yaitu bersyukur kepada Allah atas nikmat taufiq untuk melakukan ketaatan, yakni nikmat dalam bentuk pertolongan dari Allah sehingga kita mampu melakukan ketaatan.
Penulis hafidzahullah ta'ala berkata :
Diantara sebab tazkiyatun nufus adalah memuji Allah atas nikmat taufiq yang Allah telah berikan untuk seorang hamba. Dalam sebuah hadits kudsi Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ
"Barangsiapa mendapati kebaikan maka memujilah kepada Allah, dan barang siapa yang mendapati selain itu maka janganlah ia mencela kecuali pada dirinya sendiri."1
Ketika seorang hamba mampu melakukan ketaatan, hendaklah ia menyakini itu merupakan taufiq dari Allah subhanahu wa ta'ala, itu merupakan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta'ala, iapun merupakan karunia dari Allah.
Keadaan seperti itu memberikan banyak faidah, diantaranya :
⇒ Jika seorang hamba memuji Allah atas ketaatan yang ia lakukan maka sungguh dengannya dia telah bersyukur atas nikmat tesebut, dan syukur adalah pengikat nikmat. Artinya semakin kita bersyukur pada Allah semakin nikmat itu akan kekal dalam diri kita.
⇒ Jika seorang hamba bersyukur atas nikmat taufiq yang Allah berikan untuknya, seraya berkata: "ya Allah amal ini mampu aku lakukan atas taufiq dari-Mu, maka terimalah amal ini di sisimu ya Allah."
Sungguh sikap seperti itu merupakan sebesar-besarnya sebab hingga amalan tersebut diterima disisi Allah, ia merupakan sebab sehingga hamba tersebut bisa istiqomah di atas amal itu, karena ia telah memuji Allah dan ia meyakini bisa melakukan hal itu karena pertolongan dari-Nya.
Sebaliknya, jika dia menisbatkan (mengaitkan) ketaatan hanya kepada dirinya, ia meyakini bahwa melakukan ketaatan itu karena kemampuannya maka sungguh itu adalah sebab kehancuran, bahkan dengannya ia tidak akan mendapatkan taufiq, dan sangat dihawatirkan nikmat tersebut dicabut oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
⇒ Demikian pula pujian seorang hamba kepada Allah, dengan meyakini bahwa ketaatan itu merupakan karunia dari Allah, hal itu melahirkan ketundukan di hadapan-Nya. Sikap seperti itu bisa memadamkan ujub, sehingga dia tidak berbangga-bangga dengan amal, sikap seperti itu akan membuat dia lebih tinggi disisi Allah.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta'ala lebih mengutamakan ibadah seorang hamba, dalam keadaan penuh rasa kehinaan.
Mutharrif bin ‘Abdillah Shikhkhir beliau berkata :
لأن أبيت نائما وأصبح نادما أحب إلى من أن أبيت قائما وأصبح معجبا
"Bermalam dengan tidur (tidak qiyamullail) dan dipagi hari dalam keadaan menyesal hal itu lebih aku cintai, daripada aku bermalam dengan shalat sementara dipagi hari merasa bangga dengan nya."2
Hal itu karena ubudiyah tempatnya adalah ketundukan dan kehinaan di hadapan Allah, semakin kita merasa hina dihadapan Allah dalam ibadah, itu semakin menunjukan kualitas ibadah kita di hadapan Allah.
Adapun orang yang sombong dan merasa tinggi dengan ibadahnya, ia tidak ada dalam tingkatan ibadah sebenarnya, ia hanyalah perangkap syaitan.
Ketika seorang hamba meyakini, mengakui, bahwa ketaatannya adalah taufiq dari Allah, iapun memuji Allah karena nya. Sebagaimana ia pun meyakini bahwa dosa adalah perbuatan dirinya sendiri maka sungguh ini adalah diatara sebab jiwanya menjadi bersih, barang siapa yang keadaanya seperti itu maka sangat diharapkan ia akan senantiasa mendapatkan hidayah dan taufiq serta istiqamah di atas nya.
Hal itu karena ia sangat berbaik sangka kepada Allah, dan senantiasa menuduh dirinya yang lalai akan hak Allah.
Ikhwah sekalian demikianlah materi yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat.
Akhukum fillah
Abu Sumayyah Beni Sarbeni
________________________
________________________
[1] Diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.4674)
[2] Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitabnya Hilyatul Auliya' (II/200).
Selasa, 10 Maret 2020
Ragbah, Rahbah, dan Khusyu adalah Ibadah #1
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد
Ikhwah di grup whatsApp Belajar Islam yang semoga dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, kita lanjutkan kajian kitab Tsalatsatul Ushul, kajian kali ini saya beri judul “Ragbah, Rahbah, dan Khusyu adalah Ibadah bagian 1”
Penulis rahimahullah berkata:
ودليل الرغبة والرهبة والخشوع قوله تعالى : ( إنهم كانوا يسارعون في الخيرات ويدعوننا رغبا ورهبا وكانوا لنا خاشعين )
“Adapun dalil Ragbah, Rahbah dan Khusyu adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala (yang artinya): “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami”. (QS. Al-Anbiya [21] : 90)
Penjelasan:
Penulis masih membahas tentang dalil-dalil sebagian ibadah hati, yakni Ragbah, Rahbah, dan Khusyu.
Ada beberapa faidah yang ingin saya sampaikan dari perkataan penulis di atas:
Pertama, apa itu Ragbah?
Ragbah sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah:
فإنَّ الرغبةَ في الشيء هي ميلُ النفس إليه لاعتقاد نفعه ، فمن حصل له رغبةٌ في شيءٍ ، حملته تلك الرغبة على طلب ذلك الشيء من كل وجه يَظُنُّه موصلاً إليه
“Ragbah terhadap sesuatu adalah kecenderungan jiwa kepadanya karena meyakini kemanfaatannya, dan jika ada ragbah dalam diri seseorang, maka ragbah itu mendorongnya agar berusaha untuk mendapatkannya dengan berbagai cara yang dia duga bisa mewujudkannya”.1
Lalu apa bedanya Ragbah (harapan) dengan Raja (harapan)?, jawabannya adalah sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:
أن الرجاء طمع و الرغبة طلب فإذا قوي الطمع صار طلبا
“Raja itu keinginan sementara Ragbah adalah usaha (untuk mendapatkan apa yang diinginkan), ketika keinginan itu kuat, maka dia berubah menjadi usaha”.2
Kedua, apa itu Rahbah?
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
وأما الرهبة فهي الإمعان في الهرب من المكروه
“Rahbah itu adalah fokus untuk menghindari sesuatu yang dibenci”.3
Jadi Rahbah itu adalah rasa takut yang mendorong seseorang meninggalkan apa yang ia takuti, ia adalah rasa takut yang disertai dengan amal (usaha).
Ketiga, apa itu Khusyu?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
والخشوع:الخضوع لله تعالى,والسكون والطمأنينة إليه بالقلب والجوارح
“Yang dimaksud dengan khusyu adalah ketundukan kepada Allah, ketenangan di hadapan Allah dengan hati dan anggota badan”.4
Jadi khusyu itu tempatnya ada dalam hati yang buahnya tampak dalam anggota badan.
Ikhwan sekalian demikian materi yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat.
Akhukum fillah,
Abu Sumayyah Beni Sarbeni
_________________________
[1] Ibnu Rajab, Abdurrahman bin Ahmad (Jamiul Ulum wal Hikam, Darul Ma’rifah, Beirut), hal. 147
[2] Ibnul Qayyim (Madarijus Salikin, Darul Kitab al-Arabi, 1973), jilid 2, hal. 56
[3] Ibnul Qayyim (Madarijus Salikin, Darul Kitab al-Arabi, 1973), jilid 1, hal. 512
[4] Syaikhul Islam, Ahmad Ibnu Abdil Halim (Majmuul Fatawa, Darul Wafa, 2005), jilid. 28, hal. 31
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد
Ikhwah di grup whatsApp Belajar Islam yang semoga dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, kita lanjutkan kajian kitab Tsalatsatul Ushul, kajian kali ini saya beri judul “Ragbah, Rahbah, dan Khusyu adalah Ibadah bagian 1”
Penulis rahimahullah berkata:
ودليل الرغبة والرهبة والخشوع قوله تعالى : ( إنهم كانوا يسارعون في الخيرات ويدعوننا رغبا ورهبا وكانوا لنا خاشعين )
“Adapun dalil Ragbah, Rahbah dan Khusyu adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala (yang artinya): “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami”. (QS. Al-Anbiya [21] : 90)
Penjelasan:
Penulis masih membahas tentang dalil-dalil sebagian ibadah hati, yakni Ragbah, Rahbah, dan Khusyu.
Ada beberapa faidah yang ingin saya sampaikan dari perkataan penulis di atas:
Pertama, apa itu Ragbah?
Ragbah sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah:
فإنَّ الرغبةَ في الشيء هي ميلُ النفس إليه لاعتقاد نفعه ، فمن حصل له رغبةٌ في شيءٍ ، حملته تلك الرغبة على طلب ذلك الشيء من كل وجه يَظُنُّه موصلاً إليه
“Ragbah terhadap sesuatu adalah kecenderungan jiwa kepadanya karena meyakini kemanfaatannya, dan jika ada ragbah dalam diri seseorang, maka ragbah itu mendorongnya agar berusaha untuk mendapatkannya dengan berbagai cara yang dia duga bisa mewujudkannya”.1
Lalu apa bedanya Ragbah (harapan) dengan Raja (harapan)?, jawabannya adalah sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:
أن الرجاء طمع و الرغبة طلب فإذا قوي الطمع صار طلبا
“Raja itu keinginan sementara Ragbah adalah usaha (untuk mendapatkan apa yang diinginkan), ketika keinginan itu kuat, maka dia berubah menjadi usaha”.2
Kedua, apa itu Rahbah?
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
وأما الرهبة فهي الإمعان في الهرب من المكروه
“Rahbah itu adalah fokus untuk menghindari sesuatu yang dibenci”.3
Jadi Rahbah itu adalah rasa takut yang mendorong seseorang meninggalkan apa yang ia takuti, ia adalah rasa takut yang disertai dengan amal (usaha).
Ketiga, apa itu Khusyu?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
والخشوع:الخضوع لله تعالى,والسكون والطمأنينة إليه بالقلب والجوارح
“Yang dimaksud dengan khusyu adalah ketundukan kepada Allah, ketenangan di hadapan Allah dengan hati dan anggota badan”.4
Jadi khusyu itu tempatnya ada dalam hati yang buahnya tampak dalam anggota badan.
Ikhwan sekalian demikian materi yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat.
Akhukum fillah,
Abu Sumayyah Beni Sarbeni
_________________________
[1] Ibnu Rajab, Abdurrahman bin Ahmad (Jamiul Ulum wal Hikam, Darul Ma’rifah, Beirut), hal. 147
[2] Ibnul Qayyim (Madarijus Salikin, Darul Kitab al-Arabi, 1973), jilid 2, hal. 56
[3] Ibnul Qayyim (Madarijus Salikin, Darul Kitab al-Arabi, 1973), jilid 1, hal. 512
[4] Syaikhul Islam, Ahmad Ibnu Abdil Halim (Majmuul Fatawa, Darul Wafa, 2005), jilid. 28, hal. 31
Tawakkal adalah Ibadah #2
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد
Ikhwah di grup whatsApp Belajar Islam yang semoga dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, kita lanjutkan kajian kitab Tsalatsatul Ushul, kajian kali ini saya beri judul “Tawakkal adalah Ibadah” bagian ke-2
Pada pertemuan sebelumnya sudah saya sampaikan tentang definisi Tawakkal, adapun kali ini saya akan sampaikan macam-macam Tawakkal demikian dalil bahwasannya tawakkal adalah ibadah.
Kedua, macam-macam Tawakkal
Syaikh Utsaimin Rahimahullah dalam kitabnya Syarah Tsalatsatul Ushul berkata:
Dan ketahuilah bahwa, Tawakkal itu bermacam-macam;
(1) Bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta'ala, bersandar hati kepada Allah subhanahu wa ta'ala, ini merupakan kesempurnaan iman, dan tanda sidqul iman (benarnya iman), hukumnya wajib dan iman tidak sempurna kecuali dengannya.
(2) Tawakkal Sir, yakni bersanda hati kepada mayit untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat atau menolak sesuatu yang buruk, ini termasuk syirik akbar (bisa mengakibatkan pelakunya keluar dari islam), karena Tawakkal seperti ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang meyakini bahwa, mayit itu memiliki kemampuan untuk mengatur alam semesta, tidak ada bedanya apakah dia seorang Nabi, wali atau bahkan Thagut musuh Allah.
(3) Bertawakkal kepada orang lain dalam perkara yang mampu dilakukan oleh nya, akan tetapi dengan merasakan ketinggian martabat orang lain dan merasakan rendahnya martabat orang yang bertawakkal kepadanya, misalnya orang yang bersandar hati dalam kebutuhan hidup kepada yang lainnya, ini termasuk syirik ashgar, karena kuatnya sikap bersandar hati kepada yang lain, adapun jika ia hanya bersandar dengan merasakan ia sebatas sebab, sedangkan yang mentakdirkannya adalah Allah, maka ini tidak mengapa1.
Ketiga, dalil Tawakkal merupakan Ibadah:
Penulis membawakan firman Allah subhanahu wa ta'ala berikut ini sebagai dalilnya:
وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman”. (Al-Maidah [5]: 23).
Ayat di atas merupakan dalil yang menunjukan bahwa, tawakkal adalah ibadah, yakni :
(1) karena Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kita untuk bertawakkal, jika perintahnya pasti tawakkal itu dicintai dan diridhai oleh Allah subhanahu wa ta'ala,
(2) karena Allah subhanahu wa ta'ala menyatakan bahwa, tawakkal itu merupakan syarat keimanan.
Dalil lainnya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala:
وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (Ath-Thalaq [65]: 3)
Kalimat “niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”, jaminan seperti ini tidak ada dalam ibadah-ibadah lainnya, maka hal itu menunjukan agungnya kedudukan Tawakkal, dan ia merupakan semulia-mulianya ibadah, maka melakukannya untuk selain Allah subhanahu wa ta'ala merupakan kesyirikan2.
Ikhwan sekalian demikian materi yang bisa saya sampaikan pada kesempatan pagi hari ini ini, semoga bermanfaat.
Akhukum fillah,
Abu Sumayyah Beni Sarbeni
______________________
[1] Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih (Syarah Tsalatsatul Ushul, Dar at-Tsurayya, 2004), hal. 58-59
[2] Ibnu Qasim, Abdurrahman bin Muhammad Al-Ashimi (Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, Dar Azzahim, 2002), hal. 62
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد
Ikhwah di grup whatsApp Belajar Islam yang semoga dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, kita lanjutkan kajian kitab Tsalatsatul Ushul, kajian kali ini saya beri judul “Tawakkal adalah Ibadah” bagian ke-2
Pada pertemuan sebelumnya sudah saya sampaikan tentang definisi Tawakkal, adapun kali ini saya akan sampaikan macam-macam Tawakkal demikian dalil bahwasannya tawakkal adalah ibadah.
Kedua, macam-macam Tawakkal
Syaikh Utsaimin Rahimahullah dalam kitabnya Syarah Tsalatsatul Ushul berkata:
Dan ketahuilah bahwa, Tawakkal itu bermacam-macam;
(1) Bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta'ala, bersandar hati kepada Allah subhanahu wa ta'ala, ini merupakan kesempurnaan iman, dan tanda sidqul iman (benarnya iman), hukumnya wajib dan iman tidak sempurna kecuali dengannya.
(2) Tawakkal Sir, yakni bersanda hati kepada mayit untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat atau menolak sesuatu yang buruk, ini termasuk syirik akbar (bisa mengakibatkan pelakunya keluar dari islam), karena Tawakkal seperti ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang meyakini bahwa, mayit itu memiliki kemampuan untuk mengatur alam semesta, tidak ada bedanya apakah dia seorang Nabi, wali atau bahkan Thagut musuh Allah.
(3) Bertawakkal kepada orang lain dalam perkara yang mampu dilakukan oleh nya, akan tetapi dengan merasakan ketinggian martabat orang lain dan merasakan rendahnya martabat orang yang bertawakkal kepadanya, misalnya orang yang bersandar hati dalam kebutuhan hidup kepada yang lainnya, ini termasuk syirik ashgar, karena kuatnya sikap bersandar hati kepada yang lain, adapun jika ia hanya bersandar dengan merasakan ia sebatas sebab, sedangkan yang mentakdirkannya adalah Allah, maka ini tidak mengapa1.
Ketiga, dalil Tawakkal merupakan Ibadah:
Penulis membawakan firman Allah subhanahu wa ta'ala berikut ini sebagai dalilnya:
وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman”. (Al-Maidah [5]: 23).
Ayat di atas merupakan dalil yang menunjukan bahwa, tawakkal adalah ibadah, yakni :
(1) karena Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kita untuk bertawakkal, jika perintahnya pasti tawakkal itu dicintai dan diridhai oleh Allah subhanahu wa ta'ala,
(2) karena Allah subhanahu wa ta'ala menyatakan bahwa, tawakkal itu merupakan syarat keimanan.
Dalil lainnya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala:
وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (Ath-Thalaq [65]: 3)
Kalimat “niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”, jaminan seperti ini tidak ada dalam ibadah-ibadah lainnya, maka hal itu menunjukan agungnya kedudukan Tawakkal, dan ia merupakan semulia-mulianya ibadah, maka melakukannya untuk selain Allah subhanahu wa ta'ala merupakan kesyirikan2.
Ikhwan sekalian demikian materi yang bisa saya sampaikan pada kesempatan pagi hari ini ini, semoga bermanfaat.
Akhukum fillah,
Abu Sumayyah Beni Sarbeni
______________________
[1] Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih (Syarah Tsalatsatul Ushul, Dar at-Tsurayya, 2004), hal. 58-59
[2] Ibnu Qasim, Abdurrahman bin Muhammad Al-Ashimi (Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, Dar Azzahim, 2002), hal. 62










